“Allahuakbar! Allahuakbar! Assalamu’alaikum, siapa namamu? Darimana asalmu? Allahuakbar!,” lantang suara seorang berbusana thawb (busana adat Arab) praktis dengan surban yang menutup seluruh pundak dan dadanya.

Tak lupa, juga dengan hitam jenggot yang memanjang seperti penampilan Rumi muda.
Begitulah yang terekam di kepala seketika kuinjakkan kaki tepat di depan gapura megah Lawang Sewu di Semarang. Ingatan ini melayang pada tayangan televisi yang sempat tren di awal era milenial.

Puluhan stasiun berlomba – lomba menayangkan dialog angker dan mistis antara pemuka agama dan manusia yang digadang memerankan makhluk selainnya. Ada yang menjadi kera, macan, hingga terkadang ular. Memang tidak akan pernah ada unta dalam peran ini, entahlah, dan menurutku tak perlu ada pembahasan lebih mengenai itu. Indonesia tak sepanas itu.
Lawang Sewu yang megah hingga kini belum berubah. Masih lekat dengan gagasan mistis khas masyarakat. Tentu ini bukanlah suatu kesalahan bagiku, mengingat dongeng semacam itu selalu saja bermanfaat di tengah cakap yang membosankan. Ya, sedikit mencoba lebih toleran.

Meski memang sedikit aneh saat menyadari masyarakat lebih peduli terhadap cerita mistis ketimbang ingatan tentang riwayat bersejarah Lawang Sewu di dalamnya.

Lawang Sewu Angker Dan Mistis

 

“Lawang Sewu sendiri mulai berdiri pada zaman pemerintahan kolonial Hindia – Belanda. Kala itu pembangunanya ditujukan untuk pusat administrasi perusahaan kereta api milik kolonial yang masih segar berkembang di Hindia – Belanda. Arsitektur bangunannya pun tak jauh – jauh berbeda dari bangunan – bangunan khas eropa. Hanya saja lawang sewu memiliki begitu banyak jendela besar, yang meski jumlahnya tak mencapai seribu, orang menyebutnya Lawang Sewu. “Lawang” sendiri dalam bahasa Jawa berarti pintu. Mungkin oleh ukuran besar jendela itu, orang mengiranya pintu.”

 

Langkahku kali ini bukan oleh kesengajaan hingga tiba di Lawang Sewu. Awalnya aku hanya ingin sekedar napak tilas Romo Soegija yang memiliki berjuta cerita tentang kemerdekaan yang rasanya bodoh untuk tidak dikenang.
Beberapa kali melewati bundaran Tugu Muda, aku merasakan ada sedikit bharatayudha di dalam. Tentang keinginan untuk melanjutkan langkah pulang menuju orang tua di Solo, atau bercengkerama dengan kisah – kisah lampau.

Dan benar, roda kendaraan berbelok persis di sebelah gedung megah Lawang Sewu.

 

Baca Juga: Raja Ampat Kedua Lahir Di Pacitan Jawa Timur Indonesia

 

Tak jauh dari tempat parkir, berdiri hik (warung khas Solo yang menjual berbagai wedang, nasi kucing, gorengan, dan bebakaran) yang terlihat ngawe – awe (melambai – lambaikan tangan) kepada dahagaku yang kian menjadi oleh teriknya Semarang.

Lawang Sewu Di Semarang Angker Dan Mistis

Seperti biasa, obrolan dengan pemilik warung pun tak pernah begitu saja aku lupakan.
“Sekarang pengelolanya udah ganti mas. Juru kunci yang udah ngabdi puluhan tahun di sini juga udah diganti. Wes pokoke udah ngga angker kayak dulu lagi lah mas,” ucapnya sambil mengaduk gula dalam gelas berisi es teh yang aku pesan.

Belum juga sempat aku layangkan pertanyaan, ia lagi berceloteh medok: “Ya bukannya gimana – gimana mas, cuman kan kita orang Jawa to. Kalo kayak gitu kan ga lumrah (pantas), masak baru dateng langsung mecat mbah Soeranto?”

Entah aku sama sekali tak mengerti yang sedang ia curahkan, pun tentang siapa yang memecat mbah Ranto aku tak tau.

Terik Kota Semarang kala itu berhasil membakar kepalaku hingga mematikan sistem kerja syaraf untuk banyak bertanya tentang isi hati masyarakat.

 

Baca Juga: Segenggam Senja Di Pantai Sederhana Bali Indonesia

 

Tak banyak yang aku tau memang. Hanya saja media akhir – akhir ini begitu santer memberitakan tentang Lawang Sewu dan investor asing yang berniat mengambil alih gedung bersejarah itu. Dan juga beberapa opini masyarakat yang melayangkan uneg – uneg nya tentang kurang nya perhatian pemkot Semarang terhadap Lawang Sewu.

Meski sedikit banyak telah aku baca mengenai pengalihan wewenang KAI Heritage kepada KAI Pariwisata. Di sini sepertinya masyarakat perlu pengertian lebih tentang Lawang Sewu, hingga tak melulu secepat itu menyalahkan pemkot. Ingat, kaum nusantara ini bukan kaum wahabi.
Kulanjutkan langkahku menuju gerbang restribusi. Mataku kembali dimanjakan dengan pemandangan ala eropa yang demi setan sekalipun belum pernah ku kunjungi, dengan kursi – kursi besi yang terpasang cantik di atas trotoar yang bersih.

Tetap imajinasiku tak sepenuh itu melayang pada eropa sesaat melihat kemacetan jalan di sekeliling Lawang Sewu.

Lawang Sewu Landmark Semarang

Setelah menyelesaikan urusan administrasi, aku berlanjut menuju gedung dengan rute yang telah ditentukan. Beberapa ruangan coba kumasuki, tak ada sesiapa kala itu. Hanya aku dan buku tulis usang yang selalu setia bersamaku. Mungkin karena orang – orang sedang bekerja dan bersekolah, hingga tak banyak kulihat pengunjung berdatangan.

Lawang Sewu Semarang Angker Dan Mistis

Tampak beberapa ruangan berfungsi dengan baik, praktis dengan album kenangan masa lampau di dalamnya. Telefon tua tertata renta dalam kotak kaca, begitupun alat hitung tua yang selama ini hanya dapat kutemu melalui gerak gambar dan suara. Wajah – wajah tanpa rasa bersalah koloni juga terlihat dalam album kenangan sebagai memori terbentuknya bangunan megah ini.

Lawang Sewu Semarang Landmark
Mendadak bulu kuduk berdiri tegak sesaat setelah kudengar beberapa orang bercakap – cakap. Tak ku lihatnya sesiapapun di sekitar, tak ada siapapun.

“Ah kalaupun itu setan, paling juga cuma mau curhat,” pikirku.

Dengan keberanian yang sedikit memaksa, aku lanjut berjalan seperti jagoan.

Memasuki satu ruangan aku disambut sebuah layar besar yang sedang menayangkan persejarahan kereta api. Nampaknya memang suara asing yang sempat membuat merinding itu berasal dari layar ini. Layar yang tetap menyala tanpa ada satu yang menikmatinya. Ah, betapa kaya Indonesia hahaha. Energi dibuang percuma.
Tak banyak memang yang didapat dalam perjalanan napak tilas kali ini, tak ada klimaks. Tapi bangsa yang baik, adalah ia yang mengenang sejarah. Jas merah, Soekarno bilang. Dan sekali lagi, inti dari sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri.

Tugu Muda, Lawang Sewu, Semarang, Angker, Mistis

Berjalanlah untuk perjalanan itu, makna tak melulu hadir dalam seketika.

Sebarkan:

9 thoughts on “Lawang Sewu Bukan Rumah Hantu”

  1. Saya suka berkunjung ke Lawang Sewu di waktu sore menjelang maghrib; bahkan sempat membuat foto di waktu malam. Lebih terasa unsur “magis dan mistis”nya 🙂

    Dan saya juga bingung, kok jelmaan makhluk halus di tipi-tipi selalu binatang gahar ya, mas? Kok nggak pitik, coro atau tumo ngono lho… Biar langsung kita pithes, nggak perlu seram-seram gitu lah… Hahahaha

    Selalu tulisan mas Gilang ini dengan tutur bahasa yang berbeda, nggak heran kalau saya harus ber-tiwikrama untuk memahaminya… Jadi yang menang di perang Bharatayudha siapa, mas? Sik berperan sebagai Sengkuni siapa? Hahahaha

    1. Lhaiya mas, kok ya melulu Macan, Singo, dan sejenisnya. Sedangkan macan kimpet selalu didiskriminasikan, unta diagung-agungkan eh hahahaha.

      Kemenangan direbut bala kurawa mas, atas kecerdikan pedagang hik yang asik bergoyang dengan gelas dan sendoknya hahahaha.

        1. Dan iming – iming SK yang menggoda pastinya mas hahaha.

          Sementara waktu ini masih bercengkerama bersama Dewata di Kahyangan Surga Pantai Kuta hahaha.
          Kalo ada umur panjang mas, pasti mampir ke Taman Srigunting dan tak lupa nanti tak misscall. Atau malah justru mas Yo yang ke Bali nih? Tak tunggu lho hehehe

  2. Magisnya sih udh ga begiti kerasa. Apa karena saya selalu berkunjung pada akhir pekan yang selalu banjir manusia?

    Tp sejak dikelola KAI, ada pembenahan dan jadilah lawang sewu seperti sekarang ini. Dulu terkesan dibiarkan saja dan kesan mistisnya kental gegara tayangan horor di televisi.

    Saya rasa lawang sewu juga sebagai monumen perkeretaapian yg patut dilestarikan. Karena sejarah panjang kertra api juga menerbitkan romantisme tersendiri 😆

    1. Mungkin bisa jadi Mas Jo, karena keseringan berkunjung jadinya udah biasa sama yang gituan hahaha. Udah jadi temen kali ya?

      Betul mas, sekarang Lawang Sewu tertata rapi dan bersih. Tentunya lebih pantas jadi wisata edukasi ketimbang wisata “syaitoni” setengah religi hahahaha.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi