Aku memang selalu rindu untuk pulang. Bukan pada kampung halaman, hanya kota kecil dimana aku pernah tumbuh dan dibesarkan, diajar sendiri oleh alam, pun lebih sering oleh kejadian, atau malah kehidupan? Ah terserah kalian saja bagaimana menyebutkan. Rasanya kalimat “kehidupan” terlalu murah untuk dituliskan.

Terobsesi menjadi seorang rocker saat remaja (hahaha hal ini selalu saja menjadi bahan banyolan saat harus berbincang tentang masa itu). Hingga menjadi seorang penjaga rumah ibadah yang taat. Belum lagi ditambah dengan cerita tentang keliling kota beramai – ramai, saat pekan menyampaikan akhirnya. Hahaha pencarian diri sejati itu.. Memalukan memang terkadang. Tapi bukankah hidup tentang penerimaan? Menerima diri di masa lalu, mengampuni, lalu kembali berjalan.

 

Lebih dari semusim tak lagi mendengar keroncong di jalan, warung tempel remang – remang1. Segalanya terkuras oleh pekerjaan, kenyataan yang kadang tak diharapkan, juga tak jarang kecewa yang menyesakkan. Segala bentuk dan warna – warni rasa begitu ramai pergi dan berdatangan, yang tentu saja mau tak mau selalu kupersilahkan. Kadang dengan muram, kadang juga dengan ikhlas. Yah, begitu berwarna..

Punthuk Setumbu

Baca Juga: Makrifat Sang Mangku Sakti

 

Setelah senyuman dan kemurahan hati Fanin sahabatku, yang begitu ikhlas mengantarku menuju bandara kebanggaan Adi Soemarmo. Juga peluk hangat mesra khas persahabatan Octha Nadia yang menerbangkan segala ruh dan jiwa menuju Pulau Dewata, kini aku kembali. Di Solo, dimana dingin malam masih sering terlihat bercinta di luar bersama ratusan pengayuh becak. Juga para pemabuk yang masih dengan indahnya menari dan bernyanyi di sudut simpang perempatan Nonongan, meneriakkan demokrasi dan kemerdekaan yang hingga kini masih menjadi mimpi. Atau angkringan yang selalu hangat berbincang di tengah remang.

 

Ini bukan tentang perjalanan budaya, pun spiritual yang masih kental di Keraton Mangkunegaran. Ini tentang cinta, tentang kerinduan atas nama persahabatan. Tentang canda yang tak terdeskripsikan, tentang kepedulian yang tak terbantahkan, dan tentang kebersamaan yang selalu terkenang; tak sedikitpun terlupakan.

Fajar Di Punthuk Setumbu Magelang

Baca Juga: Tapak Tilas Desa Sembalun Lombok Timur

 

Berawal dari pertemuan tak terencanakan di sebuah angkringan modern di seberang Jalan Slamet Riyadi, aku berbincang tentang suatu kisah perjalanan bersama Zuhdi. Tentang Lombok yang Illahi, tentang anak – anak alam di timur yang selalu rindu bangku sekolah, dan tentang Bunaken yang masih alami. Hingga kami pun berlanjut pada perbincangan perjalanan yang tak terencanakan. Malam itu juga, tepat saat jarum jam menunjukkan angka sepuluh di dindingnya, keempat bundar roda mobil berarah pada Rahma yang hampir terlelap di pelukan ibunda. Dengan rayuan yang tiba – tiba itu, bertiga kami berangkat menuju angkringan Pak Harno di Kerten. Angkringan dimana tak jarang kami terlibat dalam sebuah perbincangan remang dan tawa yang lepas terbenam di dalam pedas dan panas wedang jahe.

Ada Adrie dan Fafa di sana, juga Baskoro dengan matanya yang memerah terbakar berbotol – botol ciu dan alunan dangdut entah darimana. Rayuan dan ajakanku untuk menghilang malam itu terjawab dengan ragu yang menderu oleh Adrie yang mulai taat beribadah kuliah di kampusnya. Tak sebentar bujuk rayuku itu, hingga jarum jam pada angka satu terpaksa membawa mereka duduk dan diam di dalam mobil untuk kami pergi bersama, menghayati malam tanpa ada satu kepastian akan tujuan.

Tapi Zuhdi benar, tuturnya membawa kami pada sebuah bukit di Kota Magelang, mengharap fajar menunjukkan cinta di kala buta pada satu stupa candi bernama Borobudur.

Punthuk Setumbu Magelang

Baca Juga: Manunggal Di Pelukan Alam

 

Jalanan yang sunyi dan panjang itu, terpecah oleh gurau khas yang terlalu lama tak kudengar iramanya. Sebuah canda yang tak pernah aku dapatkan di rumah – rumah yang lain. Dari nyanyian lagu seirama, hingga selera masakan yang sama. Sunyi malam itu hanya milik kami, dan Zuhdi yang sangat bernafsu menyembah Tuhannya, juga Fafa yang mengeluh kelaparan. Tapi waktu tak tersedia sebanyak itu, tak ada toleransi waktu untuk makan di pinggir jalan, hanya sedikit ibadah di mushola tempat penjualan bahan bakar.

 

 

Roda terus berputar, terkadang 130km/jam mengikuti sepi dan sunyi nya jalan menuju Magelang. Hingga kami tiba pada suatu kenyataan bahwa untuk menikmati fajar terbit di antara stupa – stupa dan candi yang tertumpuk, kami harus masuk melalui lobby hotel Manohara yang tarifnya terlalu tinggi bagi kami yang hilang tak terencanakan.

Seorang tukang ojek pun tak terduga datang menghampiri, bermaksud menyelamatkan fajar merah kami. Meminta kami untuk mengikuti laju motor tua dengan kecepatan tinggi menuju gerbang sebuah bukit bernama Punthuk Setumbu. Begitu asing memang nama ini terdengar, seperti tak pernah tertulis dalam kitab Jayabaya maupun Kawruh Basa Jawa yang selalu kubawa saat ceria seragam merah putih masih pantas mengena.

Beberapa menit melalui jalanan perkampungan yang sempit dan berkelok lengkap dengan sejuk dinginnya embun fajar, kami dipertemukan dengan banyak tanjakan yang hampir tegak lurus. Benar – benar membawa kami pada ketegangan sebuah perjalanan yang selalu dinanti.

Punthuk Setumbu

Baca Juga: Gunung Agung Dan Pura Yang Luhur

 

Tiba di gerbang itu, menyelesaikan administrasi dan registrasi, perjalan curam nan tinggi harus kami lalui dengan jalan kaki. Mungkin memang tak seberapa jauh, tapi bagi kami yang melewati malam tanpa sedikitpun lelap tertidur, ini terasa berat. Belum lagi angin yang kencang berhembus basah sisa hujan semalam itu begitu ikhlas menusuk tulang.

Delapan belas menit menapaki tangga demi tangga akhirnya kami sampai pada kerumunan manusia yang berdiri, berbaris melintang, dan berbincang tentang fajar yang tak kunjung datang. Mengalungkan segala peralatan rekam digitalnya, seolah tak mau kehilangan fajar meski sedetik.

Beberapa dari mereka nampak murung karena fajar terlalu lama bercinta dengan kabut, hingga stupa agung itu tak bersinar keemasan kali ini. Satu persatu mulai melangkahkan kaki menuruni bukit, dengan sedikit kesal dan cemburu pada fajar yang acuh. Tak ada satupun kulihat di layar kameranya berwarna jingga keemasan seperti biasanya fajar menyapa. Ya, mereka benar – benar murung dan kesal atas fajar.

Punthuk Setumbu

Baca Juga: Teruntuk Pulau Merah Yang Marah

 

Tetapi kami? Tak sedikitpun lelah dan kesal, pun murung yang kami rasakan. Tawa itu selalu ada, selama Fafa masih gila dan acuh pada kecewa, kami semua tertawa. Juga Adrie yang selalu saja melahirkan canda di sekitar oleh perilaku nyelenehnya.

Toh kami datang bukan untuk fajar, kami hanya ingin berjalan lalu hilang. Setidaknya sekali saja di tengah sempitnya waktu yang terbunuh pekerjaan.

 

 

1) Warung Abang Keprabon. Tempat masyarakat berdiskusi untuk Indonesia dengan suka cita

Sebarkan:

One thought on “Punthuk Setumbu, Puisi Fajar Untuk Sahabat”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi