“Berdansa sore hariku, sejiwa alam dan duniamu, melebur sifat kakuku.”

Fourtwnty – Fana Merah Jambu

 

Senin itu pekat, aku seperti berjelaga dalam kebosanan di antara ranjang empuk dan terik yang mengganas di luar.

Hari ini memang tak seperti biasanya; terjaga oleh ketergesaan dan rasa takut terlambat memasuki ruang kantor yang di setiap titik kulihat orang – orang hanya sibuk dengan monitor, dengan bibir jontor, juga kulit yang kian kendor.

Sebab Minggu ku yang telah menunggu terpaksa kulewati dengan jabatan sementara sebagai Manager On Duty, menggantikan segala kuasa dan tugas pimpinan tertingggi perusahaan. Keputusan kurasa tepat, sesekali saja bersahabat dengan tubuh yang juga butuh sedikit peregangan oleh tegangnya deadline yang menyesakkan.

Taman Baca Kesiman

Keinginan untuk melukat di Pura Suci Tirta Empul terpaksa batal siang itu, terik seperti sedang cemburu terhadapku, yang akhir – akhir ini lebih memilih banyak bercengkerama dengan ruang ber-AC dan segala radiasi di setiap hembusnya. Dan waktu pun sepertinya juga tak terlalu ikhlas mengabdikan beberapa detiknya hanya untuk sebuah perjalanan panjang Kuta – Tampak Siring.

 

Tak tau apa yang semestinya kuperbuat terik siang itu kecuali membunuh waktu dengan telefon pintar yang sedikit membodohkan kejiwaan.

Beberapa feeds di Instagram kupandangi satu persatu. Hingga pada satu titik, satu akun tak terkenal berkabar tentang kesuksesan konser Danilla, OM PMR, dan Jason Ranti yang digelar di salah satu kedai kopi indie beberapa hari selang digelarnya konser akbar Soundrenaline 2017 di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana.

Taman Baca Kesiman

Lain hal nya dengan Jogja, Bandung, dan Jakarta. Bali yang ku kenal memang tak terlalu banyak menyuguhkan kedai ngopi yang konsisten menghibur hati pemuda negeri dengan alunan musik indie lokal seperti di Rumah Sanur.

Tapi pernah juga terkabar di kepalaku beberapa waktu tak lama lalu tentang satu perpustakaan yang tak jarang mempersembahkan konser mini musisi indie lokal. Yap, Taman Baca Kesiman.

Taman baca satu ini kutaui melalui jasa cerdas Youtube yang selalu menghubungkanku dengan hal – hal hebat yang belum pernah kutahui sebelumnya.

Konsep perpustakaan yang nyeleneh seperti ini justru mengundang syahwat berjalanku untuk singgah sejenak, mencari tau tentang apa sebenarnya Taman Baca Kesiman.

Taman Baca Kesiman

Beranjak dari kasur, kupersiapkan segalanya; dari mulai beberapa lembar rupiah yang lusuh, hingga hati yang kujamin tak berkecamuk.

Perjalanan dari rumah singgah menuju Kesiman bagiku tak teralu jauh, hanya saja sibuk padatnya jalanan Denpasar memang sedikit memperpanjang waktu tempuh. Tak banyak yang dapat kunikmati dari perjalanan itu, hanya asap kendaraan dan debu jalanan yang mengepul oleh pekerjaan aspal.

 

Baca Juga: Senja Becinta Di Kuta

 

Sore pukul tiga aku tiba di taman yang terlalu sulit ditemukan ini.

Suasana begitu lengang, hanya ada dua kendaraan berinisial DK tertata rapi di parkiran depan taman. Pikirku perpustakaan sedang tutup atau dalam tahap renovasi.

Kulangkahkan ayunan kakiku untuk tetap memasuki gerbang yang sepertinya dirancang oleh seniman.

Beberapa  meter berjalan, di sisi kanan tertumpuk sekam padi yang sedikit berserakan. Setelah perlahan kuperhatikan, sekam padi yang ditata di dalam rangkaianan genting tua ini membentuk huruf TBK yang tak lain sebagai singkatan dari Taman Baca Kesiman.

Kulanjutkan langkahku, kursi – kursi kayu yang tertata rapi di luar nampak sepi tak berpenghuni. Hanya ada dua pemuda yang sedang asik dengan laptop dan mungkin dengan obrolan perlawanannya. Mengingat Taman Baca Kesiman merupakan salah satu tempat favorit berkumpulnya pemuda Walhi Bali.

Taman Baca Kesiman

“Permisi,” kataku.

“Oh ya silahkan, mau baca buku? Kalau mau ambil buku di dalam, alas kaki di lepas ya. Makanan tidak boleh masuk ke dalam perpustakaan. Nanti kalau mau pesan makanan, bisa dimakan di luar. Sekarang silahkan milih bukunya dulu,” sahutntya cepat, secepat menghilangnya trending kasus pornografi pimpinan ormas Anti Pancasila – Pancasila Club.

Sepertinya satu orang ini pemikir yang cerdas, dari obrolannya yang cepat untuk segera berpindah fokus pada laptop sudah dapat kubaca. Atau malah mungkin sedang asik bermain DOTA? Entahlah..

 

Baca Juga: Tidak Ada Hantu Di Lawang Sewu

 

Di dalam kulihat tertumpuk buku – buku berharga, lawas, dan tak dapat ditemukan di toko buku di dalam mall – mall, dan hanya dapat ditemukan di Taman Baca Kesiman dan pasar loak. Semua buku karya Pramoedya Ananta Toer lengkap berbaris di dalam satu sekat. Dari mulai Calon Arang, Mangir, Cerita Dari Blora, dan Bumi Manusia terlihat masih mulus seperti tak pernah terbuka.

Buku – buku perjuangan 30SPKI juga terlihat nangkring di atas rak yang rapi, ditambah lagi cover – cover buku dengan wajah The Great Soekarno juga mewarnai perpustakaan unik ini.

Taman Baca Kesiman

Mataku mulai tertuju pada satu nama, nama yang agung, nama seorang bajingan yang sangat mulia, guru yang terlalu rendah disebut guru, teman yang terlalu kecil di sebut teman, Emha Ainun Nadjib!

Arus Bawah, sebuah karya yang kebetulan tertulis melalui tangannya tanpa ragu kuambil untuk sekedar kupandangi dan terkadang sedikit kubaca sambil tertawa licik pada manusia.

Kubawalah buku itu keluar, kuletakkan di atas meja supaya lebih pantas buku itu untuk terbaca.

Taman Baca Kesiman

Secangkir Kopi Bali kupesan, praktis dengan blanggreng atau kalian juga boleh menyebutnya singkong goreng.

Ingat, di sini tidak ada waiter. Kalian mesti mandiri, memesan di depan dapur dan mengambilnya saat pesanan sudah jadi.

 

Baca Juga: Hakikat Sebuah Perjalanan

 

Beberapa jam telah berlalu, angin yang semilir menggodaku untuk lebih dalam menikmati taman ini. Buku kututup dan memulai perjalanan berkeliling taman. Kutemui merajan yang tak lagi seram, tulisan “LOVE” terpahat rapi di badannya. Kutemui juga wajah gendut nan tua Gus Dur tersenyum mengejek terbentuk dalam susunan semen yang menjadikannya patung.

Bocah – bocah berwajah cerdas juga terlihat asik bercengkerama dengan bola di halaman belakang yang luas.

Surya pun berpamitan dengan jingganya yang penuh cinta, sangat luar biasa.

Betapa sore yang terselamatkan, betapa Senin yang bahagia, betapa alam yang pecinta.

Sebarkan:

8 thoughts on “Dongeng Di Taman Pembaca”

  1. Selalu asyik aah membaca tulisan mas Gilang. Saya berasa menjadi manusia lain dengan narasi yang mengharu biru penuh catatan dan aksara yang “liar” menurut saya. Dan saya paling doyan main ke perpustakaan sedari kecil hingga kuliah. Minimal mampir ke toko buku Gra*** numpang baca, nggak beli 😀

    Manager On Duty? Aah, suatu job-desk yang paling saya suka kala itu. Berpura-pura menjadi “tuhan” di sebuah hotel

    “beberapa lembar rupiah yang lusuh”… ini pasti gegara tenggal tua, belum gajian hahahaha…

    “secepat menghilangnya trending kasus pornografi pimpinan ormas Anti Pancasila – Pancasila Club” … ini pasti lagi ngomongin Hugh Hefner ya, mas #gagalpaham

    Terima kasih sudah berbagi cerita.

    1. Manusia lain gimana mas Yo? Sama dengan Dunia Lain itu? Hahaha
      Saya pun begitu mas, sama saja. Kebiasaan ini berawal sejak SMA. Dulu di toko ***media masih enak ada kursi atau sofa nya, sekarang kok kayaknya udah pada ilang ya sofa – sofa itu.

      Bukan soal Hugh Hefner mas, ini lebih ke arah Musolini dan antek – antek nya. Tambah ra nyambung kan hahaha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *