Sahabatku Hanafi telah lebih dulu berpulang ke rumah peristirahatan, di pangkuan Tuhan. Setelah ganas ombak laut selatan Pacitan berhasil memeluk tubuh pecinta alam, yang hendak mengumpulkan sampah anorganik dari cantiknya Teleng Ria.

Betul, Pacitan. Tujuh tahun sudah kecewa mendekap niatku untuk singgah kembali di bumi itu. Hingga akhirnya niat suci berjalan ke Kota Malang tertunda, oleh kabar tentang cantik surga yang bersembunyi di pesisir laut selatan.

 

Secangkir kopi hitam dan sesuap obrolan subuh di serambi surau memberangkatkan langkahku dari Kota Solo. Perjalanan yang dimulai tepat di satu hari sebelum memasuki bulan puasa sempat membuatku ragu. Tentang betapa sibuk padatnya jalanan yang akan kulewati nanti. Hal ini mengingat tradisi padusan masih melekat erat di jantung masyarakat kejawen, yang selalu menanti – nanti datangnya bulan Ramadhan.

Pemandangan kontras nampak terlihat di sepanjang jalan Sukoharjo – Wonogiri. Jalanan begitu sunyi, hanya beberapa pedagang praktis dengan bagor nya menanti mini bus, dan kendaraan umum yang akan membawanya menuju pasar. Lengang..

 

Singkat cerita aku kini telah tiba di Wonogiri, di rumah orang tua yang pada masa kecil pernah aku tinggali.

Keriput tangan romo menyalamiku dengan rasa sayang nya yang khas, juga peluk dan kecup cinta ibu terasa begitu hangat.

Tak akan pernah lupa, nasi putih hangat dan sambal bawang ternikmat di belahan bumi timur mengisi penuh perutku pagi itu. Pada akhirnya sambal bawang yang selalu aku impikan itu, hmm.. Mengingat tak begitu  banyak orang tau tentang sambal satu ini.

 

Pernah ada cerita menarik soal sambal bawang. Dulu sewaktu aku masih terlalu baru tinggal di Bali, pernah aku memesan sambal bawang di sebuah warung muslim di Jalan Kubu Anyar Kuta. Dan tanpa banyak bertanya si penjual pun mengiyakan pesananku. Tak ku dengarnya suara cobek yang bergesekan, sedikit membuatku curiga tentang sambal apa yang sebenarnya sedang ia buat.

Berpuluh – puluh menit aku menunggu.

Dan benar, datanglah sambal matah di atas mejaku. Sekali lagi, sambal matah. Bukan sambal bawang seperti yang aku maksudkan. Maklum, mungkin dakwah tentang sambal bawang tidak menyebar hingga ke Bali. Jadi memang betul hanya di Wonogiri lah sambal bawang terlezat dapat dinikmati.

 

Kenyang sudah pagiku itu, oleh cinta, oleh sambal bawang, dan oleh semua rasa yang terindukan. Dan nampaknya kerinduanku mengusik aktifitas pagi ibu dengan celoteh lawas soal masakan malah memperlambat langkahku menuju surga di Pacitan.

Bisa jadi jalanan dipenuhi pemuda – pemudi yang hendak melakukan tradisi padusan jika aku berangkat semakin siang.

Tapi tunggu, langkahku sudah tiba di Pasar Donorojo, titik awal aku memasuki Pacitan. Dan aku samasekali tak menemui padat jalanan yang aku pikir bakal menghambat  perjalananku. Kembali aku memutar kepala, apakah mungkin tradisi lama itu telah hilang tergerus modernisasi.

Folk Travel Tales Indonesia

 

Kembali pada perjalanan. Naik turun dan berkelok jalanan membawaku ke Desa Watukarung. Desa yang begitu diberkati dengan keindahan ombak pantai nya. Pantai Watukarung contohnya, ia begitu populer di kalangan surfer internasional, dimana seorang Bruce Irons pernah menjajal ombak setinggi 4 meter di pantai ini.

Tapi sekali lagi, aku bukanlah pejalan yang begitu peduli dengan apa yang sedang populer di kalangan masyarakat. Kali ini aku datang untuk pantai yang lain, bukan Pantai Watu Karung.

 

Baca Juga: Menikmati Kemah Di Area Peternakan Warga

 

Informasi yang cukup telah aku dapat dari sahabat yang memang tinggal di sekitaran Pacitan, Fajar namanya. Sahabat yang lama aku kenal saat aku masih menjabat sebagai ketua sebuah komunitas penggemar band beraliran rock.

Sedikit banyak ia mpromosikan dan banggakan keindahan Pacitan melalui pesan di Blackberry Messenger. Dan terakhir, ia bercerita tentang pantai yang baru saja dibuka akses nya, yang memiliki pemandangan sangat indah di Samudera Hindia, Pantai Kasap, yang kini menjadi tujuan utamaku.

 

Kasap memang berkarang, sama seperti kebanyakan pantai lainnya di tanah Pacitan. Ombaknya pun tak berubah, masih sama seperti dulu, bipolar. Ia bisa datang tiba – tiba dengan ketinggiannya yang menakjubkan, dan kadang ia juga begitu tenang bak Buddha yang bermeditasi.

 

Sedikit tak percaya dengan apa yang sedang aku lihat, samudera yang ini memiliki banyak pulau kecil sama seperti yang pernah aku lihat di Raja Ampat melalui sebuah program televisi. Rasa penasaran membawaku menaiki bukit untuk dapat bersaksi tentang indahnya alam Pacitan. Lelah tak terasa saat aku mencapai puncak bukit tertinggi.  Seperti pergi tersapu angin.

Pantai Kasap Pacitan

 

Takjub dan kagum senantiasa menuntun langkahku menuruni bukit kecil itu. Aku ingat masih memiliki urusan dengan alam yang lain. Seperti yang disarankan beberapa penduduk sekitar untuk mencoba menyusuri aliran sungai yang menuju muara.

 

Baca Juga: Napak Tilas Mangku Sakti Di Lombok Timur

 

Ada satu sungai bernama Sungai Cokel, hanya berjarak beberapa ratus meter dari tempatku terkagum oleh indahnya Kasap.

Terlihat beberapa perahu mesin terparkir rapi telah menanti.

Sungai Cokel

 

Perahu berjalan pelan membawa aku dan kagumku menyusuri sungai yang semakin jauh mulai terasa seperti sedang berlayar di tengah rimbun hutan amazon.

 

Ucap terimakasih sempat membuat terkejut nelayan yang mengemudikan kapalku. Aku sangat bersyukur, sangat berterimakasih kepada masyarakat yang dengan sadar mau menjaga kelestarian alam Watukarung hingga seindah ini.

Tak bisa aku bayangkan apa jadinya jika di saat musim penciptaan dulu Tuhan menurunkan Kasap dan Cokel di Kota Jakarta.

 

Kini terbukti sudah. Masyarakat yang cerdas dan sadar untuk menjaga kelestarian lingkungannya, akan menerima berkat atas usaha mereka sendiri. Lapangan kerja terasa begitu lebar terbuka di tanah Watukarung ini. Seorang yang dulu bekerja sebagai kuli bangunan dengan bayaran yang tak seberapa, kini mampu membuka warung di area wisata. Seorang yang dulu pengangguran kini telah menjadi kapten di atas perahu yang berlayar menyusuri jernihnya Cokel, dan masih banyak berkat yang lainnya. Lalu bagaimana dengan Jakarta dan masyarakatnya?

Sebarkan:

6 thoughts on “Pacitan Aku Kembali”

  1. wahhhhhh….keren abis gaya bahasanya, turut sedih dengan kalimat pembuka kamu. Pasti nya aku akan sering baca supaya bias lebih mellow kayak kamu… btw aku suka Pacitan juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi