Sebungkus nasi putih lengkap dengan sayuran dan juga beberapa potong kerupuk terlihat begitu ikhlas mengganjal perut. Pagi itu sebelum segelas kopi setia dengan pekatnya menggugah adrenalin.

Perjalanan ini tidak begitu jauh, tidak juga mudah untuk dibilang dekat. 2 jam mengendarai sekuter matic menuju dermaga. Hingga lelap tertidur selama 5 jam di atas samudra yang tenang menuju Lembar.

Kekagumanku akan Lombok membambawaku kepada sosok bernama Pak Ali, seorang sahabat yang ku kenal tak lama di Bali. Yang bersedia membawaku pulang ke kampung halaman nya. Sekali lagi aku harus berhutang budi atas orang baik yang dikaruniai cinta oleh dan kepada tanah air kelahirannya. Begitu banyak yang ia ceritakan sebelum perjalanan itu dimulai.

 

Kecup di tangan yang keriput orang tuanya memberangkatkanku menuju Sembalun. Selera musik yang sama mampu menepis semua lelah. Gerah, mendung, dan hujan, tak menghentikan kami bernyanyi sebelum akhirnya bungkam di tengah hutan panjang Sembalun. Pepohonan yang rimbun tak jarang menampilkan pertunjukan simpanse hingga rusa liar di gubuk peristirahatan kami. Kembali pujianku terlontar atas perjalanan tadi.  Dari mulai beberapa cidomo di pinggir jalan hingga masyarakat yang berbusana muslim nusantara. Hal ini begitu kuat meyakinkanku bahwa tanah ini masih Indonesia. Setelah terlalu lelah aku dipertontonkan pada masyarakat yang lebih cinta menggabungkan agama dengan kebudayaan Arab.

Pikiranku kembali melayang – layang di hutan hujan yang tenang. Tentang ingatan celoteh – celoteh lucu beberapa guru yang pernah aku temu. Mereka begitu prihatin atas anak – anak impian Nusantara yang telah terprovokasi untuk menyatukan unsur budaya sebuah negara dengan syariat agama. Dari mulai busana gurun pasir yang sama sekali tidak pantas dengan kondisi iklim Indonesia. Dan juga beberapa oknum yang mengharamkan pergelaran pertunjukan wayang di Surakarta. Ditambah lagi dengan sikap beberapa ormas yang bertindak semena – mena seakan Indonesia ini berazas syariat sebuah agama. Come on, bro! Ini Indonesia, bukan Saudi Arabia. Segala azas negara dan perundang – undangan telah diatur sedemikian rupa untuk melahirkan tujuan bersama yaitu toleransi beragama.

Masih segar di ingatanku. Sebuah ideologi tidak akan pernah berhasil masuk ke suatu daerah, tanpa mengikuti alur budaya yang ada di daerah itu. Satu contoh yang terjadi di Pulau Jawa di jaman pemerintahan Majapahit kala itu. Beberapa dewan wali songo kala itu merumuskan strategi dakwah atau penyebaran dengan menggunakan budaya Jawa yang ada. Dapat dilihat dari mulai wayang kulit yang memaksa Kanjeng Sunan Kalijaga menggabungkan Lurah Semar dengan cerita Ramayana yang sebenarnya tidak ada hubungannya. Hingga Sunan Kudus yang mengharamkan konsumsi daging sapi di Kudus kala itu, yang hingga kini masih berlaku.

Indonesia sudah begitu memprihatinkan. Belum lagi ditambah dengan ingatanku tentang beberapa media yang mengabarkan terjadinya pengerusakan di restoran – restoran dan warung – warung yang tetap buka selama bulan Ramadhan. Aku sama sekali belum pernah mendengar undang – undang yang mengatur jam buka restoran dan warung makan di bulan Ramadhan. Tak habis pirkir, motivasi apa yang membuat ormas – ormas ini bergerak ekstrim sedemikian rupa. Membela agama? Selemah itukah agama Tuhanmu hingga perlu pembelaan seperti itu. Atau justru membela Tuhan? Siapa yang sedang menyerang Tuhan? Yang aku tau, tidak ada satu kuasa pun di atas bumi ini yang mampu melawan kuasa Tuhan, jadi pembelaan semacam itu hanya akan berujung pada penistaan Tuhan yang menganggap Tuhan itu lemah.

 

Hahaha sial, pembahasanku terlalu panjang di alenia itu.

 

Kembali pada perjalanan, langkahku berlanjut dengan sedikit senyum atas ingatan selama aku berteduh. Gerimis, jalan berkelok nan menanjak, bukan menjadi suatu hal yang berat di saat hijau nya kaki – kaki Rinjani menyambutku dengan senyum khas ketimuran nya.

Kami sejenak berhenti di Taman Wisata Pusuk Sembalun untuk sekedar menikmati beberapa butir bakso tusuk yang masih panas, rasanya begitu pas dengan alam Sembalun yang dingin. Dari situ juga aku dapat melihat penampakan kecil Desa Sembalun dari atas yang terlihat dikepung banyak bukit kecil yang lembut dan hijau. Opiniku hingga saat ini masih sama, keindahan hanya akan indah saat dinikmati dari atas.

Sembalun. Cinta di Lombok Timur

 

Desa Sembalun

 

Berlanjut ke Desa Sembalun. Aku yang sedikit basah oleh embun yang tersapu angin telah disambut hangat oleh Mas Nurman, sahabat yang akan membawaku mengenal lebih dalam mengenai Lombok Timur. Di persinggahannya, kopi hitam rinjani kembali menghangatkan tubuh. Disusul dengan hidangan makan siang yang syarat akan kekayaan alam Lombok Timur yang sangat ia banggakan. Dari mulai Sambal Beberuq yang pedas, Sayur Lebui yang pekat, Sayur Komak yang sedap lengkap dengan jagung manisnya, hingga tahu goreng yang belum pernah aku rasa senikmat itu sebelumnya. Belum lagi saat ku alihkan pandanganku ke luar dari jendela rumah, terlihat jelas beberapa bukit yang megah memutari pedesaan ini, seakan memeluk hangat masyarakat dari terpaan angin laut. Bukit Anak Dara, Nanggi, dan Pergasingan terlihat begitu manis dan setia.

 

Dari awal perjalanan memasuki kawasan Rinjani aku telah banyak berujar kepada Pak Ali tentang kebersyukuranku atas Tuhan yang masih setia menunjukkan cinta – Nya melalui alam yang begitu lestari. Meski tidak sedikit manusia aku temui dengan membusungkan dada dan keangkuhannya merusak alam dan ekosistem dengan berbagai cara demi mimpi dan ambisi besarnya terhadap dunia.

Melewati persawahan dan hutan bambu, kali ini Mas Nurman membawaku ke sebuah bukit bernama Selong dimana aku dihadapkan pada sebuah pemandangan yang membuatku sangat merinding hingga tanpa tersadar sedikit air mataku tumpah begitu saja.

Bukit Selong Sembalun, Lombok Timur
Bukit Selong Sembalun

Bumi yang hijau, gunung yang agung, terasa begitu kuat kasih alam berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Tanah vulkanik menjadikan persawahan dan perkebunan terlihat begitu subur di Sembalun.

Bukankah semua semestinya seperti ini? Biarkan gunung saja yang agung, jangan lagi menggantikannya dengan gedung – gedung.

Semua terlepas begitu saja di Sembalun. Aku berteriak, aku bernyanyi, berpuisi, dan bercinta dengan Tuhan yang aku rasa kuat kehadiran – Nya di tanah yang diberkati.

Terimakasih Sembalunku, cintaku atasmu tidak akan berhenti hanya di Bukit Selong itu.

Sebarkan:

4 thoughts on “Sembalun: Bercinta Di Lombok Timur”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi