Ah maaf. Rasanya jariku tak pernah lagi menari, di antara kotak demi kotak keybord laptop yang nampaknya murung berdebu. Jujur, untuk memulai kalimat ini jariku begitu kaku, mengikuti rasa yang terlalu lama beku.

Lebih dari 60 hari rasanya aku terlalu sibuk bergelut dengan diri. Mencoba memalsukan keadaan yang terlalu sedih, menjadi hari yang lebih berarti. Namun nyatanya tetap, jiwaku tak mampu berdiri. Tertatih menerima kenyataan perbuatan manusia bumi, yang kian hari kian ngeri.

 

 

Yah, ini tentang kepergian perempuan itu. Seorang adik, kekasih, sahabat, dan juga peran nyata yang selalu tegar menghadapi setiap keji dan kejam perbuatan dunia. Ah, andai saja kalian tau apa saja yang telah ia lalui, sahabatku.

 

 

Terlahir di kota dimana para koruptor tertidur, yaitu Jakarta. Tak lama beradaptasi lalu berpindah ke Bogor atas tuntutan pekerjaan orang tua. Lalu Lumajang di Jawa Timur, hingga Sumba yang hampir tujuh tahun, dan Bali yang melengkapi duka kehidupannya.

Bagiku dengan usia yang semuda 22 tahun, kota yang sebanyak itu sangat buruk untuk pertumbuhannya. Dimana semestinya ia mampu tinggal lebih lama bersama sahabat, bermain, berlari, mengejar layang – layang, atau pasaran yang begitu trend di Indonesia jaman dulu untuk perempuan polos seperti ibu.

Dan memang benar. Kekerasan mental ia terima di sudut toilet sekolah di Sumba sana, di saat ia masih muda SMA. Cemooh rasis yang hanya karena ia berwajah seperti bibi Lung, caci maki tentang tuduhan kasus seksual yang tidak benar, sudah biasa ia kenyam. Belum lagi kasarnya orang tua yang katanya pemimpin agama yang tak tau berawal darimana.

Satu kisah pernah bertutur tentang ia yang kecil, saat usianya masih tertutup rapi seragam berwarna biru putih;

“Suatu sore, sungai begitu cantik menggoda seorang bapak untuk mengambil untung dari banyaknya kehidupan, yang tumbuh dan besar di sungai itu. Ia bawa anaknya memancing ikan untuk kali yang pertama. Oleh karena minimnya pengalaman, dan juga ia tak ditakdirkan untuk menjadi pemancing oleh Tuhan, satu ikanpun tak berhasil diangkat oleh sang anak. Lalu hal ini membuat geram orang tua, hingga bogem mentah pun melayang dari udara menuju kepala.”

Belum lagi tentang parang yang biasa mengancam leher kecil berlemak untuk menggoroknya.

Ah, ia pun lagi – lagi tabah, menceritakan ini dengan senyum tipis seperti tak  pernah terjadi apa – apa.

Gabriella Legi

Baca Juga: Gunung Agung Selalu Luhur

 

Oleh atas kecerdasan akademik, pada tahun 2013 angin membawanya berpetualang ilmu di salah satu universitas ternama di Pulau Dewata.

 

Sebentar, sebelum aku melanjutkan biar aku tebak apa yang sedang kalian pikirkan.

 

Betul, ini berarti mau tak mau ia harus kembali beradaptasi di usianya yang belum menginjak 20 tahun. Sendiri, tanpa keluarga, bahkan teman yang rasanya semakin sulit ditemui di usia yang seperti ini. Kecuali hanya pembicaraan manis yang berujung pada benefit atau untung dan rugi. Bukankah memang seperti ini makna teman di era modernisasi?

 

Lalu kecerdikan membawanya untuk berkomunitas, bukan dengan kelompok dari latar belakang agama yang sama seperti yang biasa dilakukan perantau lainnya. Melainkan dengan komunitas perantau yang sama – sama datang dari Sumba, yang rasanya kurang begitu menarik perhatian pemerintah dalam hal edukasi seksual.

Setelah kucoba kembali pada 2011 yang belum lama. Pemerkosaan yang dilakukan seorang oknum lurah di Waingapu cukup menyita perhatian media. Pada 2015 seorang mahasiswi salah satu perguruan tinggi, juga menjadi korban kekonyolan ini. 2016 juga, seorang pemuka pendeta GKS telah berkali – kali mencoba membelangkan batang hidungnya, untuk memperkosa anak menantunya sendiri. Setahun sebelumnya, 2015 seorang oknum polisi juga diberitakan nyaris memperkosa dan membuang seorang perempuan kelahiran Lambanapu, Waingapu.

Entahlah apa yang terjadi di timur sana, seperti air mataku tak lagi sudi menyapa pipi kecuali marah dan berontak atas dunia yang berlendir dengan kenakalan yang benar – benar jauh dari elegan.

 

 

Kembali pada perempuan malang yang tadi kusebutkan. Setahun berkomunitas, ia menemukan sahabat baik yang setia menemani saat perjalanan terlalu jauh ditempuh dengan berjalan kaki, saat benak terlalu lemah memendam segala persoalan yang tak terucapkan. Sahabat laki – laki ini sudah seperti saudara yang pecinta, setia mendengar tangis kesedihan atas perlakuan kasar orang tua terhadap perempuan. Mengagumkan memang, bagi kalian yang mengenal cinta hanya tentang dua sejoli berpasangan.

 

 

Seperti yang telah kututurkan tadi. Persahabatan, pertemanan, dan persaudaraan di era yang sekarang ini lebih banyak hanya sebagai make up yang membungkus kepentingan lain.

Perempuan ini pada akhirnya menjerit dan menangis di pojok toilet atas perilaku bangsat sahabat dan seorang temannya yang rasanya terlalu bebal menerima pengajaran dan cinta. Dengan kejam perempuan ini berkali – kali dihardik dan dihajar tanpa belas kasihan. Di usia yang 20 itu.. Seperti aku tak sanggup lagi melanjutkan kalimat – kalimatku. Jemariku kembali kaku tiap kali harus bertutur tentang pengalaman itu.

Berhari – hari ia menutup diri di ruangan kamar kostnya, tanpa makan dan mungkin hanya minum. Goresan – goresan pisau terihat di tangannya yang mungil seperti berkali – kali ia telah mencoba mengakhiri diri atas kehidupan yang kian ngeri.

2014 itu akan menjadi tahun yang selalu membayangi kebahagiaannya.

Gabriella Legi
Source: Google.com

Baca Juga: Senja Ria Di Taman Pembaca

 

Satu hal yang menarik, setelah beberapa pekan ia berbincang dengan Tuhan yang dikenal, ia memutuskan untuk meminta sahabat bejat itu mengikat jalinan kasih yang lebih sering disebut dengan “pacaran.” Alasannya cukup sederhana bagiku. Ia tak ingin ada lagi lelaki lain yang menyentuh kesuciannya, dan mengakhirinya dengan sahabat ini. Lalu lelaki yang satunya, ia anggap itu kecelakaan karena menurut penuturannya lelaki yang satu ini tak turut andil dalam kekejaman itu, hanya menahan dan membiarkan sahabatnya menikmati. Hahaha hanya!

Mungkin juga ini yang membuat mereka tinggal bersama di dalam satu bilik kecil yang menyeramkan. Yang terlalu penuh sesak dengan darah dan kenangan yang mengerikan.

 

 

Nasibnya kini berubah, lebih mirip seperti pembantu rumah tangga menurutku. Menyiapkan sarapan hingga makan malam untuk lelaki tanpa harga diri ini. Dan jika sekali saja tak terhidang makanan di meja makan, bersiaplah benda melayang.

Kuliah yang berawal dari beasiswa yang telah ia tekuni pun terpaksa dilepaskan, oleh atas paksaan lelaki bejat. Dengan alasan tak boleh lagi mengenal dunia luar, takut ia menjadi binal dan nakal.

Tiga tahun lamanya ia tinggal dalam kekerasan, kekasaran, dan ketakutan, hanya menjadi pelayan. Tak jarang lelaki ini datang dalam keadaan alkohol memenuhi kepala hingga birahi menyala – nyala. Perempuan yang sedang dalam masa menstruasi tetap ia hajar tanpa belas kasihan. Pukulan, gamparan, hingga kalimat pedas yang melayang tanpa pertanggung jawaban.

Gabriella Legi

Baca Juga: Pacitan, Riwayatmu Dulu

 

Pesakitan dan kebohongan ini ia sembunyikan tiga tahun lamanya dari orang tua. Sedang biaya kuliah yang juga terkumpul dari jemaat ini terus mengalir di Pulau Dewata, yang nyatanya hanya untuk menghidupi lelaki tak berperasaan.

Bagaimana mau berkata – kata, jika hanya kekasaran dan kekerasan yang tersimpan dalam kepala saat mengingat orang tua? Belum lagi ancaman yang diterima jika lelaki itu tau apa yang telah diceritakan pada orang tua.

Hingga pada akhirnya ia tiba di puncak kebosanan dengan hidup yang bajingan, ia putuskan untuk bepergian ke Bogor di kota lamanya dengan dalih cuti kuliah. Akhir tahun 2016 itu, hingga berbulan – bulan. Meninggalkan segala hal yang menjijikkan, di Bali yang bagiku sebenarnya juga tentang Cinta.

 

 

Pertengahan 2017 ia kembali ke Bali dengan jiwa yang baru, harapan baru, dan hati yang baru. Ia putuskan tak lagi tinggal bersama lelaki itu, meski terkadang tetap saja lelaki ini datang mengetuk pintu yang terkunci dari dalam. Sering kali ia juga pergi menghindar, menginap di rumah teman yang ia kenal.

Lalu ia mencari pekerjaan, setelah segala yang ia miliki habis untuk membayar utang yang akupun tak tau untuk apa.

 

 

Alam mempertemukan kami tanpa kesengajaan, di sebuah hotel yang sedang ramai menggelar job fair dimana aku sendiri saat itu juga sedang mencari pekerjaan. Tak banyak yang kami bicarakan dalam pertemuan, lebih banyak kami habiskan waktu berbincang melalu telefon.

Ia dendam, ia marah, emosinya tak beraturan. Mempermainkan perasaan setiap lelaki adalah impian terbesarnya saat itu. Ia bangga saat berhasil menyakiti perasaan setiap lelaki yang ia jumpai. Tak luput dari permainan, pada awalnya ia ingin menjadikanku sebagai korban kemarahan. Tapi bagaimanapun juga, belas kasihku dan pengertianku tentang cinta jauh lebih besar dari sekedar dendam dan kebencian semacam itu. Seribu kali ia coba menyakiti hati, sejuta cintaku tetap untuk dia yang senantiasa terinjak dan terbuang atas dunia yang kejam.

Cinta dan Gabriella

Baca Juga: Ingin Kucuri Senja Untukmu, Gabriella

 

Semakin hari kedekatan kami semakin menjadi, hingga akhirnya aku mengerti mental yang bobrok semacam ini. Mental yang hancur lebur oleh ketakutan dan penindasan. Benar – benar hancur, hingga untuk sekedar memasuki mall seorang diri pun ia takut. Memasuki outlet tanpa membeli baginya hal yang menakutkan, ia takut dunia akan mencibir dan memarahinya. Untuk mengunyah daging ayam yang murah, baginya adalah dosa. Karena kebiasaan lama melarangnya mengkonsumsi segala hal yang berbau daging, pengiritan katanya. “INIKAH KEMERDEKAAN BANGSA?

Suatu kali dengan sengaja aku memintanya membeli tiket Soundrenaline 2017 di Garuda Wisnu Kencana yang megah, dengan alasan perbaikan mentalnya. Di sepanjang jalan ia menelfon bercerita tentang kekhawatirannya saat tiba di outlet penjualan tiket. Minder dan takut jika nanti ia tak tau apa yang akan ia lakukan dan orang – orang akan tertawa seperti yang biasa ia terima atas perlakuan sahabat lamanya.

 

Kalian pasti mampu membayangkan betapa hebat kehancuran mental ini.

Sembilu yang dulu biarlah membiru.

A post shared by Gilang Kayana (@gilang.kayana) on

 

Perlahan, hari demi hari kucoba perbaiki jiwanya yang telah lama pergi. Jiwa sebagaimana layaknya manusia bercinta dengan kehidupan. Bukan oleh karena aku pahlawan, terlebih dari itu, manusia mana tak tergerak atas penindasan yang terjadi di depan mata? Di negeri yang katanya merdeka, setiap jiwa semestinya merdeka. Bukankah seperti itu, sahabat – sahabatku?

 

 

Masa itu perlahan kian berganti, sedikit ia mulai berdamai dengan diri. Segala masa lalu yang sembunyi, telah ia ceritakan dengan sangat berani kepada kedua orang tua. Yah memang meski terkadang jawabannya bukan tentang apresiasi pada anak yang berani jujur, melainkan kalimat – kalimat pedas seperti: “dasar anak bodoh”, “kamu telah berdosa”, “kamu bikin malu orang tua,” dan lain sebagainya. Tapi tak apa, kejujuran adalah yang utama. Bahkan terdengar kabar kedua orang tua yang suci sedang mendoakannya untuk cepat mati.

Ia juga kini telah dengan berani berinteraksi dengan orang baru yang ia jumpai di kursi antrian panjang Puskesmas. Kadang ia juga dengan berani menghayati hari di warung kopi bukan buatan Yahudi di mall di tengah kota, Kuta. Ia juga kini bekerja dengan hati, mengerjakan segala tuntutan pekerjaan dengan professional, bukan ketakutan lagi.

Gabriella Legi

Baca Juga: Berjalan Seperti Buddha

 

Mendengar kejujuran anaknya yang entah dicinta atau tidak, keduanya tiba di Bali. Menangkis segala kejujuran yang diutarakan, acuh tanpa apresiasi, malah menghakimi dengan tuduhan – tuduhan yang lebih berat lagi. Menjemputnya yang baru kukasihi tak lebih dari seratus hari. Khawatirku lalu melayang – layang, apakah dia akan baik – baik saja di Sumba dengan lingkungan yang kutau tak sejalan dengan Cinta.

Yap, 14 Oktober pagi itu ia terbang dengan perasaan yang luar biasa bercampur aduknya. Aku tau perasaan itu, di saat ia memandangi Bali dari atas kejauhan berupa pulau – pulau kecil dengan cerita yang berwarna – warni.

 

 

Setelah kepergian itu, aku tak mengerti lagi tentang kehidupan di atas bumi yang senantiasa kupijaki. Cerita tentang masalalunya terus melayang tak berkesudahan. Tentang pertumbuhannya yang telah mengenal Cinta dan tak lagi banyak menderita.

Khawatirku juga terus berputar di kepala, tentang bagaimana nanti kehidupannya di Sumba? Kebusukan kusaksikan terus terang di depan mata, sedang tak ada satupun yang mampu kuperbuat. Terkadang memang menyakitkan menyatakan diri di depan Tuhan untuk tak sudi berperan atas kehidupan. Benar inikah kensekuensi sorang saksi?

 

 

Sahabatku, kini aku kembali.

Aku kembali bersaksi atas dunia yang warna – warni, menulisnya untukku, untukmu, dan untuk Cinta. Terimakasih sahabatku Viskha yang telah mengingatkan untuk kembali berkarya. Satya, Intan, dan Juga Krishna yang senantiasa menanti beredarnya setiap edisi. Aku telah kembali, berkabar atas setiap perjalanan dan Cinta yang kutemui.

Sebarkan:

2 thoughts on “Kembali Dari Kehilangan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi