“Jalanan setapak dan selicin ini tak mungkin kulalui lagi. Ah apalagi kabut terlalu tebal menutup sorot lampu kendaraan.”
Gelap itu benar – benar sunyi, seperti tak ada satupun rumah berpenghuni. Hanya aku, mesin motor yang berteriak memaksa menanjak, setumpuk gulungan peralatan kemah, dan jurang dalam di kiri dan kanan.

Sudah terpikir olehku sebelumnya, senja yang hanya tinggal menantinya jingga bukanlah saat yang tepat untuk menempuh perjalanan Kuta – Karangasem. Ditambah lagi lokasi perkemahan yang tak terlalu jelas titik pusat koordinatnya. Hanya satu nama saja yang aku tau kali ini, Bukit Cemara. Tidak lebih.

Perjalanan normal dari Kuta menuju Kota Karangasem sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya butuh waktu 2 hingga 3 jam lamanya berkendara. Tapi kali ini aku bukan hendak pergi ke kota. Aku menuju bukit dimana aku dapat menikmati sang megah Gunung Agung berdiri tepat di hadapanku.

Ya, memang beberapa purnama terakhir ini aku selalu rindu menyepi. Meresapi setiap detik keheningan dengan nyanyian jangkrik – jangkrik liar. Juga semeribit angin malam yang memeluk belulang.
Untuk itulah segelap ini ku langkahkan kakiku untuk Bukit Cemara yang belum lama ku kenal.

Bukit Cemara Karangasem 2

Jalanku kali ini bukan mudah. Beberapa kali gerimis dengan mesranya membasahi seluruh tubuh saat memasuki gapura selamat datang Kota Karangasem. Ditambah lagi kabut tebal yang mengusik pandangan mata pada jalanan.
Jaringan telefon pun tak terlihat batang hidungnya, GPS terlihat kecewa menyembunyikan navigasinya.
Tiga hingga empat penduduk asli Karangasem yang dikenal alus bertutur kata itu tak tau menau tentang Bukit Cemara yang kutanya. Hingga tiba di Desa Yeh Kori, seorang gadis cantik pedagang rujak menunjukkan arah yang tepat menuju bukit.

 

Baca Juga: Kawah Ijen Bak Tempat Sampah

 

Roda kendaraanku tak lagi menyentuh aspal, hanya kerikil dan pasir yang sering membuatnya tergelincir. Memaksaku turun dan menuntun kendaraan hingga puluhan meter sampai bertemu jalan yang memungkinkan.
Kiri kanan jalan mulai lengang, hanya ada beberapa gubuk dengan penerangan sekedarnya, mungkin lilin atau mungkin juga sentir.
Dengan kabut yang sangat tebal aku memaksa langkahku yang tak lagi cepat menaiki bukit yang luar biasa licin.
Khawatirku berlebihan, aku juga tak sudi menjadi pejalan yang ceroboh. Gelap ini benar – benar tak memungkinkan lagi, hanya satu atau dua meter saja jarak mataku mampu memandang.
Mulai terjadi perdebatan di kepala yang hampir membeku oleh dingin pegunungan, antara aku kembali atau melanjutkan langkah menuju titik perkemahan. Sebab untuk kembali, gelap dan licin yang sama siap menyambut putaran rodaku. Dengan jurang dalam di kiri kanan tentunya.

Jarum jam menunjuk ke arah angka 8. Aku mulai teringat gubuk terakhir yang kutemui tak terlalu jauh dari perjalanan menuju bukit ini, mungkin limaratus atau seribu meter. Yang tadi kulihat remang seperti hanya bercahayakan sentir.
Keputusanku berpihak untuk kembali beberapa ratus meter, gerimis yang kembali datang seolah menambah asupan semangat.
Ini kali pertama aku benar – benar mengurungkan niat untuk tiba di tujuan. Tapi tak apalah, inti sebuah perjalanan adalah perjalanan itu sendiri.

Kopi Bukit Cemara

Beberapa ratus meter kemudian aku tiba di sebuah warung kelontong yang tadinya kukira gubuk petani.
“Om Swatyastu,” kataku permisi pada empunya tanah. Aku kembali bertanya tentang titik pusat dimana orang biasa mendirikan tenda.
“Wah, kalau cuaca kayak gini susah mas mau jalan ke sana. Kabutnya turun, jadi ga keliatan apa. Sini duduk di sini dulu,” jawab bapak yang sangat lembut itu.
Dengan bahasa Bali alus yang sedikit saja aku mengerti, kucoba memulai perbincangan yang diawali dengan memesan kopi.
Ritual dimulai, beliau banyak bertutur tentang Bukit Cemara yang indah itu. Keangkeran jadi perbincangan utama di sini. Angker dalam konteks positif maksudnya.
Banyak orang berdatangan ke Bukit Cemara untuk sekedar bermeditasi, dengan raut wajah bahagia terpancar saat bertemu pagi.
Ada juga beberapa yang kesurupan, karena memang lokasi perkemahan berada tak jauh dari Pura yang Disucikan. Sekali lagi ini Bali, makhluk – makhluk yang tak terlihat mata badani juga hidup berdampingan bersama masyarakat. Yang masyarakat Hindhu Bali dapat berbincang dengan mereka menggunakan hati dan nurani. Jadi sudah sepantasnya dimanapun bumi Bali dipijak, di situ tata krama dijunjung.
Beliau dapat bercerita sepanjang ini karena beliau juga salah satu kuncen Bukit Cemara, dan juga Pemangku yang tak jarang dibangunkan tengah malam untuk menetralisir pendatang yang kesurupan.

Bukit Cemara Karangasem 3

Baca Juga: Budaya Nusantara Dijunjung Tinggi Di Timur

 

Di luar, hujan tak kunjung reda. Aku memohon untuk diijinkan singgah sejenak, setidaknya hingga ayam jantan berbunyi.
Beliau tak sedikitpun keberatan, hanya saja warung memang harus tutup sebentar lagi, dan beliau juga harus pulang ke rumah di bawah oleh karena ada ibu yang sakit dan harus dijaga. Entahlah, di bawah mana lagi, mataku sama sekali tak mampu memandangi mana bawah dan mana atas.
Bermodal sleeping bag, aku rebah di atas lantai di serambi warung sederhana itu. Jangkrik, anjing hutan, hingga binatang – binatang yang tak merdu suaranya pun bernyanyi seolah sedang mengadakan pesta penyambutan.

Bukit Cemara Karangasem 3

Alarm empat pagi membangunkanku dari lelap yang datang oleh lelah. Menggulingkanku ke kiri dan kanan seolah memberi tau hujan telah berpamitan pulang.
Saatnya aku kembali menanjak, menuju bukit yang dingin.
Tak ada siapapun pagi itu untukku berpamitan dan sekedar berucap terimakakasih.
Kembali aku berada di atas kuda besi, lengkap dengan segudang peralatan kemah. Berharap masih pantas untukku mendirikan tenda di bukit demi meresapi nyanyian pagi.

 

Baca Juga: Jangan Lagi Berkemah Di Karang Boma Uluwatu Bali

 

Perlahan kunaiki bukit itu. Jalanan terasa tak lagi selicin seperti sebelumnya. Kerikil – kerikil terlihat telah manunggal berpelukan dengan pasir basah yang mulai mengeras.
Langkahku tak lagi serumit semalam.
Beberapa orang mulai terlihat berjalan menuju kebun dengan runcing sabit yang tertenteng di keriput tangan mereka. Sapanya begitu hangat, sangat kontras dengan kehidupan kota yang kini selalu aku tinggali.
Jalanan ini sempat membuatku berpikir untuk berpindah ke Karangasem saja, mencari pekerjaan seadanya dan menjalani hidup di tengah masyarakat yang seperti ini.
Tapi tunggu, ini hanyalah sebuah perjalanan, pulang adalah keharusan. Seperti romo pernah bertutur, “pergilah sejauh mungkin, dan jangan lupa pulang.”

Bukit Cemara Karangasem 5

30 menit berkendara kini aku tiba di titik orang biasa mendirikan tenda. Pikirku ini masih sangat pagi, belum habis waktuku untuk mendirikan tenda dan berdiam di dalam sembari menanti kabut menyingkapkan dirinya untuk aku berkenalan dengan Gunung Agung yang agung.
Aku tenang berdiam, meski meditasi tak menjadi hal yang mudah lagi. Gonggongan puluhan anjing liar seolah mengajakku untuk bernyanyi saja.

Bukit Cemara Karangasem 6

Aku menanti kabut pergi hingga benar – benar pergi. Kilauan cahaya pagi memberi secercah harap untuk kabut segera terpecah dan tak menghalangi mata menatapi Gunung Agung.
Hingga sembilan pagi waktu itu, sedikit saja kabut pergi dan membuka mataku menatap sang agung Gunung Agung. Tetapi hanya sebentar, mungkin hanya dua atau tiga detik saja.
Hingga seorang petani menghampiriku, berkata bahwa kabut seperti ini mungkin tak akan pergi hingga aku kembali bertemu pagi lagi.
Ah sudahlah..
Aku jadi kian tersadar dari lubuk hati yang terdalam, sebenarnya aku hanya ingin mengambil gambar Gunung Agung untuk sekedar ajang pamer di instagram. Bagiku itu hal utama yang merusak inti hakikat dari sebuah perjalanan; aku tidak hadir penuh untuk perjalanan itu sendiri, aku lebih berfokus pada sebuah kamera, bukan kepuasan jiwa.

Bukit Cemara 7

Tapi setidaknya beberapa menit yang lalu aku telah menatap dan bersaksi atas kemegahan alam berdiri gagah di hadapanku dalam beberapa detik.

Perjalanan ini mengingatkan aku pada sebuah film inspiratif berjudul The Secret Life of Walter Mitty. Saat itu Mitty bertemu seorang fotografer legendaris bernama Sean O’Connell di puncak Gunung Himalaya. Terjadilah obrolan yang syarat akan ilmu kehidupan di dalamnya, hingga pada satu titik Sean menunjukkan seekor macan tutul salju yang diyakini keberadaannya hanya tinggal satu itu saja di pegunungan Himalaya.
Mitty pun terheran – heran dengan tingkah Sean yang terdiam dan tak segera mengambil potret keindahan fauna langka itu.

“If I like a moment, I mean, me, personally.. I don’t like to have the distraction of the camera. I just want to stay in it. Right here, right here..”
– Sean O’Connell pada film The Secret Life of Walter Mitty

Sebarkan:

17 thoughts on “Hadir Utuh Dalam Perjalanan”

  1. Akupun pernah mengalami hal yg serupa mas. Melakukan perjalanan hanya demi jepretan kamera. Sampai lupa hakekat perjalanan itu sendiri seperti apa. Kadang juga terlalu sibuk merekam dan mengabadikan lewat bidikan kamera. Padahal, itu hanya file digital yg sewaktu-waktu bisa saja hilang.
    Kadang juga terlupa benar-benar mebikmati sebuah tempat atau destinasi. Bukan hanya soal jepretan melulu.

    1. Beberapa kali mas Jo, aku benar – benar mencoba menantang diri dalam berjalan. Berjanji pada diri sendiri untuk hadir utuh sadar penuh untuk perjalanan tanpa melibatkan satu jepretan pun dari kamera. Dan ada rasa berbeda yang hadir di situ. Rasa yang tidak akan pernah hadir saat aku lebih berfokus pada kamera dan pikiran tentang cerita yang akan aku tulis nanti.
      Perjalanan itu indah, luar biasa..

      1. Nah itu! Rasa. Bagaimana mengutamakan rasa agar bisa diolah menjadi sebuah tulisan ku rasa lebih penting.
        Memikirkan bagaimana perjalanan nanti akan diceritakan ketika masih dalam perjalanan juga justru tidak bisa menikmati perjalanan itu sendiri.
        Setuju, perjalanan itu luar biasa. Mendengar kata perjalanan saja aku bisa merinding. Tak melulu perjalanan akbar atau terjauh.

    1. Betul mas Yo. Era milenial terlalu menuntut kita untuk pencet shutter saat berjalan. Dan blog ketika hanya berisi tulisan tanpa gambar pun rasanya hambar. Padahal sebenarnya semua orang tau ini hanya tentang kepantasan saja hehehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi