Sebait gelisah di Pulau Merah..

 

Bukan kali pertama langkahku terengah – engah pada sebuah perjalanan gunung menuju laut.

Ijen telah membasahiku dengan hujan embun dan gas nya yang tercium wangi yang akan selalu singgah di kepala. Demam, lelah, dan mengantuk bagiku hanyalah sebuah canda yang menggoda yang diberikan alam kepada tubuh.

 

Kali ini Desa Sumberagung, Pesanggaran, telah menyiapkan seribu cintanya hingga langkahku pun terasa sangat ringan mengarungi jalan yang berdebu. Betul, alam mengundangku bersenja gurau di Pulau Merah yang indah.

Sawah, gunung yang berwarna hijau pekat, kebun, dan beberapa warung makan tanpa makanan terlihat di sepanjang perjalanan.

Satu warung makan yang setengah terbuka menghentikan langkahku untuk sekedar mengisi rasa penasaranku tentang mengapa hampir semua warung makan yang ada kini tertutup rapi, apakah memang ada paksaan dari oknum tertentu untuk berhenti berjualan demi menghormati ibadah puasa yang sedang mereka laksanakan, atau memang kesadaran warga yang menghormati bulan Ramadhan. Mengingat kini Indonesia tengah diramaikan oleh ormas – ormas yang mengatasnamakan agama, yang tanpa pengetahuan mendalam mengenai tarekat – hakekat – dan marifat, begitu semena – mena mengatur banyak pedagang makanan untuk tidak berjualan selama bulan puasa dengan ancaman kekerasan yang sama sekali tidak berdasar pada ajaran agamanya.

Kecurigaanku ternyata salah. Ini Banyuwangi, dimana 90% mayoritas penduduk beragama Islam dan taat. Para pedagang menutup setengah lapaknya berdasar pada hati yang ingin saling menghormati, tulus dan tanpa paksaan dari oknum ormas atau preman.

 

Setibanya di gerbang pintu masuk pantai, sunyi dan sepi. Tak nampaknya penjaga loket penjual tiket sedikit membuatku bertanya – tanya bagaimana caraku masuk. Beberapa kendaraan bermotor terlihat dengan bebasnya keluar masuk area pantai tanpa membayar sepeserpun retribusi. Area parkir roda dua yang semestinya diisi kendaraan roda dua pun lengang, dan lusuh, mereka para pengendara lebih memilih parkir di pinggiran pantai di belakang pagar yang membatasi antara ruang pantai dan ruang publik dimana orang bebas melakukan aktifitas seperti berjualan dll. Seseorang berseru, “masuk aja mas, ga bayar kok.” Waktu sudah semakin sore, aku juga tak bisa berlama – lama berdiri di depan pintu gerbang tanpa ada kepastian. Bersama orang – orang aku masuk, dan parkir di tempat yang sama pula, sama persis seperti mereka, iya sama.

 

Pantai Pulau Merah

Rupa – rupanya kaki ku sudah mulai terlatih dan akrab dengan dunia perpasiran, ia mampu membedakan yang mana pasir yang berkualitas, yang mana pula pasir yang biasa saja. Aku lalu berlari lebih dekat lagi pada samudera, berkenalan dan berucap salam. Pulau Merah kala itu terlihat begitu anggun, lembut, dan sangat berkharisma. Tak banyak aku bercengkerama dengan ombak, aku memilih rebah dan diam, sangat menikmati nyanyian ombak juga orang – orang di sekitar, pula pancaran mentari yang sangat hangat menenteramkan.

Memang, pasir terlihat semakin memerah kala diterjang ombak seiring berpulangnya mentari kala itu. Mungkin memang karna itulah pantai ini bernama Pulau Merah, atau seperti banyaknya orang berpendapat saking tingginya kadar emas di daerah itu menjadikan pantai terlihat merah merona. Entahlah..

 

Hari kian gelap saat orang – orang mulai berkemas meninggalkan pantai beserta sampahnya. Aku yang masih kasmaran belum usai berurusan dengan pantai ini, langkahku terasa sangat berat untuk pulang hingga akhirnya keputusan berpihak pada secangkir kopi hitam yang tersedia di warung Pak Thoriq.

Beliau sedang berbuka puasa saat aku hendak memesan kopi, mimik wajahnya terlihat khusyuk menyantap suap demi suap berkat yang Tuhan berikan.

Secangkir kopi terhidang di depanku, lengkap dengan Pak Thoriq yang mulai duduk dengan kedua telinga yang memungkinkan beliau berperan menjadi pendengar kali ini, dan juga bibir yang tersenyum yang juga telah siap membantu perannya sebagai teman pencerita.

Beliau telah menjadi pribadi kedua setelah Tuhan yang mendengar pernyataan cinta dan kekagumanku pada Pulau Merah. Suasana sontak menghangat ketika beliau mulai mengerutkan dahi dan berucap nasib Pulau Merah mungkin hanya akan tinggal nama dalam kurun waktu 2 atau 3 tahun lagi. Tak banyak memang yang aku ketahui mengenai Pulau Merah, Pesanggaran, bahkan Desa Sumberagung.

Terdapat sebuah gunung bernama Tumpang Pitu di desa itu yang telah terbukti dan berpotensi sebagai lahan pertambangan emas yang dulunya pernah digarap oleh investor dari Australia. Perluasan demi perluasan area penambangan telah terjadi sejak 1997 melahirkan kecemasan dan kekhawatiran masyarakat sekitar, ditambah lokasi penambangan yang hanya berjarak 3 Km dari pemukiman warga.

Beliau juga bercerita potensi laut dan perikanan di Kecamatan Pesanggaran sendiri sangat bagus, dan akan sangat disayangkan di saat limbah tambang merusak potensi yang ada. Dampak sudah dapat dirasakan dari mulai jalanan yang sangat berdebu saat panas dan sangat licin saat hujan, juga lumpur yang tak jarang mengotori cantiknya Pantai Pulau Merah yang sempat menjadi fokus masalah pada akhir Oktober 2016.

Masyarakat sangat gelisah, khawatir dampak negatif ini meluas hingga Teluk Hijau, Pantai Pancer, dan beberapa potensi alam yang ada di Pesanggaran. Beberapa aspirasi telah dilayangkan melalui musyawarah  juga melalui demo yang diprakarsai oleh masyarakat Pesanggaran sendiri untuk menghentikan penambangan. Namun jawaban pemerintah setempat dirasa selalu mengecewakan.

Layaknya mesin pencari seperti google, kekecewaan itu menuntun masyarakat pada masalah – masalah yang lainnya yang juga berpotensi pada kemarahan. Peran Dinas Pariwisata di Pesanggaran dirasa sangat menurun sejak tahun 2015, dimana event surfing internasional yang biasa diadakan di Pulau Merah setiap tahun kini tidak lagi digarap sejak 2 tahun yang lalu, penerangan – penerangan yang ada di pantai tidak lagi dipedulikan memang terbukti saat aku mulai menghabiskan setengah cangkir kopi hitamku yang kian pekat. Bukan, bukannya aku mencoba memprovokasi masyarakat untuk bergerak lebih ekstrim lagi. Aku tidak memihak siapapun di sini, hanya saja kekecewaan yang beliau wartakan sedikit menggugah kepedulianku tentang alam Banyuwangi. Karena memang, dari sejak pertama memasuki Pantai Pulau Merah keanehan sudah mulai menyambutku; dari jalanan yang sangat berdebu, kosongnya ruang penjualan tiket, hingga tempat parkir yang tidak terurus.

Bukan semestinya ada gelisah di balik laut yang indah. Masyarakat pasti mampu bergerak, hanya itu yang mampu aku sampaikan kepada bapak yang telah menghidupi ketiga anaknya sendirian sejak anak pertamanya berumur 9 tahun dan kini tengah menyelesaikan studi pertaniannya di UGM.

Seperti bom waktu saja, kemarahan yang kian menumpuk pernah meletus begitu saja di tahun 2015, hingga memaksa beberapa oknum melayangkan tembakan peluru pada beberapa warga. Pikirku melayang pada cerita yang pernah digaungkan romo mengenai peristiwa trisakti 1998. Katanya ini negeri demokrasi? Ini masyarakat yang semestinya dilindungi, bukan ditembaki. Masih banyak yang lebih perlu ditembaki daripada masyarakat Pesanggaran yang telah menjadi korban konspirasi. Tapi kepala mulai mengajakku berpikir dengan kacamata yang lain. Bisa jadi oknum itu melayangkan tembakan karena tindakan masyarakat mulai anarkis.

Dan memang benar, beberapa alat berat tambang hangus terbakar, kabel – kabel listrik dipotong oleh puluhan pelajar – pelajar SMP yang semestinya dapat belajar dengan tenang di rumah.

 

Sempat bertanya mengapa informasi ini tidak meluas seperti yang terjadi di Kendeng belakangan ini, ternyata itupun juga menjadi pertanyaan masyarakat. Beberapa opini masyarakat tentang media yang mampu dibeli pemerintah pun melayang begitu saja. Lalu jika memang pemerintah mampu membeli media, mengapa masyarakat tidak? Pikirku. Menurutku media masa bukan sebagai alasan utama untuk tidak dapat mengabarkan permasalahan ini kepada dunia luas. Pesanggaran selain memiliki alam yang potensial, ia juga memiliki pemuda yang semestinya mampu bergerak lebih dari sekedar berteriak melalui demonstrasi dan tindakan anarki. Era digital memberikan kemudahan yang luar biasa untuk masyarakat mampu bersuara dan beraspirasi melalui media sosial. Semestinya kekuatan teknologi informasi terlintas di benak pemuda – pemuda Pesanggaran, iya semestinya.

 

Ah sudahlah, kedatanganku bukan untuk menjadi demonstran, bukan pula sebagai trainer atau semacamnya. Setidaknya perjalanan selalu memberiku dongeng sebelum tidur, dongeng yang nyata tentang negeriku yang kurasa masih indah, Indonesia.

Jam sudah menunjukkan 9 malam waktu Pesanggaran, jutaan jangkrik di jalanan sudah terlalu lelah menungguku pulang.  Tak lupa kembali aku mengucap salam pada alam yang merah, yang sangat indah meski di dalam gundah dan gelisah.

Sebarkan:

4 thoughts on “Gelisah Yang Memerah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi