Bukan suatu hal yang mudah untukku memilih dan memutuskan tentang kejutan apa yang pantas aku berikan kepada sahabat yang hendak berlibur ke Bali yang notabene telah menjadi “rumah” selama 4 tahun terakhir ini. Rasanya Bali tidak akan pernah ada habisnya, begitu banyak kecantikan yang belum pernah terinjak oleh langkah kaki yang belum lelah ini. Karena memang di setiap sudut Pulau Bali selalu saja menggambarkan bakti, cinta, dan ketulusan. Indah..

Sahabatku ini datang dari Jakarta, Mba Hani namanya. Mendengar cerita tentang Jakarta, menonton TV, atau membaca koran, hanya satu yang terlintas di kepalaku; “Menjauhlah dariku, Jakarta.” Aku paham betul betapa masyarakat metropolitan sangat merindukan perjalanan yang indah, meresapi deburan ombak di pantai, atau berdiam menikmati nyanyian burung – burung kecil di pagi hari. Jakarta memang begitu menyesakkan, berangkat ataupun pulang kerja makhluk di sana dihadapkan pada kemacetan, dan juga gedung – gedung angkuh berbentuk kotak simetris yang dengan racunnya siap membentuk karakter dan pemikiran manusia yang kotak – kotak pula.

Ah sudahlah, Jakarta sudah terlalu kuno untuk menjadi bahan cerita.

Bukit Kintamani Pulau Bali

 

Flight di saat petang, ku jemput ia yang datang dengan ibunda yang tercinta. Kedatangan bersama ibunya sempat membuatku sedikit memutar otak kembali tentang apa yang baik untuk mereka menyambut fajar di Bali.

Nampaknya Mba Hani sudah memahami maksudku, ia memutuskan untuk berangkat sendiri menyambut fajar Bali tanpa sang ibu yang terkasih. Setelah makan malam di Jalan Dewi Sri yang memang telah disulap menjadi pusat kulinernya Bali ini, aku antar mereka kembali ke hotel untuk berkemas sembari aku berpikir akan kemanakah langkah ini.

 

Sahabatku pernah bercerita tentang desanya yang indah di Bukit Kintamani sana, Desa Pinggan namanya. Beberapa foto ia tunjukkan dan memang menurutku pemandangan itu sangat menakjubkan, dimana belum banyak orang tau tentang lokasi dan keberadaannya. Aku tidak bertanya banyak mengenai akses dan lokasi desa itu.

 

Jam telah menunjukkan 02:00 WITA. Bermodal mobil Innova yang berhasil aku sewa, dan juga aplikasi GPS yang hanya mampu berjalan saat ada sinyal, kami menuju Desa Pinggan yang belum pernah kami ketahui sebelumnya. Nekad memang, tapi apalah arti perjalanan tanpa keberanian?

Di jalanan yang sangat gelap, bukit demi bukit kami lalui hingga pada akhirnya kami diharuskan beriring – iringan dengan banyak truk yang memiliki tujuan yang sama, yaitu Bukit Kintamani. Yang membedakan hanya tujuan akhirnya, kami datang untuk memeluk fajar dan bernyanyi bersama burung – burung kecil. Dan truk – truk ini datang untuk mengeruk pasir hasil letusan Gunung Batur untuk akhirnya dibawa kembali ke kota, tidak bukan dan tidak lain sebagai bahan dasar pembangunan hotel – hotel, restoran, atau klub – klub malam yang kian lama sangat memadati Pulau Bali.

Sesampainya di Bukit Kintamani, kami menuruni jalanan yang sangat terjal, yang hanya dilewati oleh truk – truk pasir saat itu. Kanan kiri adalah jurang, dan depan adalah tikungan pada turunan. Terjal, kerikil – kerikil sempat membuat roda sedikit tergelincir. Sepanjang lebih dari 10 KM kami menuruni jalanan ini, tak nampak juga desa bernama Pinggan itu. Fajar menguning kian menjingga, itu artinya matahari yang menghangatkan bumi telah datang. Aku, tanpa berpikir panjang, kuputuskan untuk kembali naik menuju Bukit Kintamani. Karena dalam keraguanku saat menuruni jalanan berkerikil itu, aku selalu teringat tulisan sahabat bernama Made Susila Yasa tentang Arnold Bennet di kutipannya; “Menuruni gunung memang lebih mudah daripada mendaki, tetapi keindahan bukan terlihat di bawah, melainkan pada puncaknya.”

 

Beruntungnya aku, fajar masih sabar menantiku dengan cahaya yang berpendar di balik Gunung Batur. Kintamani masih jingga, masih hangat dan romantis seperti syair – syair Rumi yang tercipta oleh Cinta Kasih Tuhannya.

Folk Travel Indonesia Kintamani

Ini bukanlah kali pertama kunjunganku untuk Kintamani tercinta. Tetapi Kintamani di pagi hari menyuguhkan cerita baru. Cerita tentang cinta kasih mentari yang selalu setia memeluk bumi.

Terimakasih, terimakasih..

Sebarkan:

2 thoughts on “Wajah Pagi Kintamani”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi