Stasiun Purwosari menitipkanku pada rentetan gerbong bernama Sri Tandjung, ia akan mengantarkan langkahku pada malam di Banyuwangi. Tak ada tujuan yang terjadwal di secarik kertas maupun smartphone. Hanya berjalan, mengikut ke arah mana bayu melaju. Hanya saja yang aku tau Banyuwangi memiliki sejuta misteri yang menarik untuk dikenal lebih dekat lagi.

Perjalanan ini akan memakan waktu sekitar 6 jam lamanya, tanpa bekal logistik, hanya kantuk yang akan membuat kereta terasa melaju lebih cepat. Lengang, gerbong terlihat begitu sepi, begitu banyak kursi tak terisi, hingga aku sangat leluasa menyelonjorkan kaki ku yang akan berjalan lebih jauh lagi.

Beberapa jam aku terlelap, seorang remaja dengan sapa akrabnya membuka mataku lebar – lebar oleh obrolan yang diawali dengan pertanyaan tentang tujuanku. Memang tak banyak yang aku tau tentang Banyuwangi, dan akupun berharap remaja ini berasal dari kota yang hendak aku tuju hingga banyak informasi yang dapat aku gali.

Mas Aldo namanya, ia baru saja pulang dari Jogja untuk mengurus pendaftaran kemahasiswaannya di salah satu kampus ternama. Banyak cerita yang ia beritakan. Dari mulai pengalamannya di Jogja, pengalaman ia saat sendu dengan Semeru, hingga pada poin yang aku tunggu; cerita tentang kota asalnya. Panjang dan lebar ia bercerita tentang keindahan alam Banyuwanginya, terdengar begitu bangga terlahir sebagai putra daerah.

Pengalaman yang langka tentunya, setelah beberapa hari ini aku menghabiskan waktuku di Kota Solo. Anak muda di sana terlihat justru cenderung malu untuk mencintai wisata kota nya sendiri. Dari mulai mengunjungi Pasar Triwindu yang legendaris hingga Benteng Vastenburg yang menyimpan sejuta cerita kekuasaan kolonial Belanda. Betul, mereka cenderung lebih berbangga saat dapat menjejakkan kaki nya di daratan konstitusi negara lain seperti Malaysia atau Singapura. Inilah bukti konkret mengapa pariwisata Kota Solo tidak begitu maju dibandingkan kota lain di Pulau Jawa. Alasan yang sama selalu terdengar, dari mulai Solo yang tidak didukung wisata alam, dll yang padahal bagiku pariwisata tidak melulu tentang gunung atau pantai. Banyak museum – museum legendaris seperti Lokananta yang tak banyak orang tau karena memang masyarakatnya sendiri tidak ada kesadaran untuk melestarikan budayanya. Ironis memang.

Kembali pada Mas Aldo yang pernah mengira menikmati sunset di Solo adalah hal yang mudah. Lagi, ia bercerita tentang blue fire di Gunung Ijen yang pernah aku dengar dari cerita teman – teman traveler sebelumnya. Keindahannya menarik banyak perhatian traveler domestik hingga manca. Beberapa gambar pernah menyita perhatianku di instagram maupun google, dan memang patut diacungi jempol meski tak semua pengunjung dapat menikmatinya dengan alasan cuaca dan gas beracun. Dan kali ini ia menyaranku untuk menyegerakan langkah menuju Gunung Ijen sesaat setelah tiba di Stasiun Karangasem untuk dapat menikmati blue fire yang melegenda itu.

 

Stasiun Karangasem

Tiba di Karangasem rintik gerimis hujan menyambutku dengan mesra nya. Segera aku menuju keluar area stasiun untuk ritual segelas kopi dan obrolan hangat dengan masyarakat setempat. Dingin hilang berganti oleh keramahan dan kearifan mereka saat menyambut pejalan seperti ku. Beberapa dari mereka menawarkan persewaan motor dan homestay untuk sekedar merebahkan badan setelah 6 jam lamanya pinggang bertekuk oleh kursi kereta yang kaku.

Di tengah obrolan yang panjang, alam mempertemukanku dengan seorang pemuda bernama Mas Rahmat. Seorang pengusaha muda yang juga menjabat sebagai ketua paguyuban homestay dan rental motor. Ia begitu baik dan sederhana dalam perkenalan, sebuah motor matic telah disiapkan untuk aku sewa dalam beberapa hari ke depan. Dan oleh kebaikannya, sebuah kamar sederhana ia siapkan untukku tanpa meminta biaya sewa sepeserpun. Tentu ini menjadi sebuah pengalaman yang tidak akan pernah mudah terlupa dan pastinya akan menambah kerinduanku untuk selalu ingin kembali ke Karangasem.

Tak seperti masyarakat yang lainnya saat bercerita tentang blue fire. Ia justru menyaranku untuk mengurungkan niat menikmati fenomena blue fire oleh karena intensitas hujan yang tinggi. Seperti yang aku baca beberapa waktu yang lalu tentang mendaki gunung  aktif di saat musim penghujan, bahaya dan resiko pun juga lebih besar jika dibandingkan dengan musim kemarau. Intensitas hujan yang tinggi memicu kabut belerang tebal dan gas beracun yang mematikan. Sehubungan dengan aku yang bukan berasal dari golongan nekad (dalam konteks negatif) traveler, kualihkan rencanaku pada rebah beberapa jam di kamar sambil menunggu hujan mereda.

 

Karangasem – Paltuding

Jarum jam menunjukkan pukul 1 pagi. Dengan gerimis yang masih menyelimuti Karangasem kala itu, aku pamit menuju Gunung Ijen. Jalanan terlihat begitu sepi. Untuk membeli sebotol bensin pun aku membutuhkan waktu 1 jam berkendara barulah aku dapati sebuah warung remang, yang dengan rapi menata beberapa botol topi miring berisi bensin di halaman.

Tanpa tersadar perlahan hujan pun semakin deras menghantam tubuhku yang hanya berselimutkan jacket. Keputusan berpihak pada niat berteduh di warung apapun yang dapat aku temui di pinggir jalan, hingga berhentilah langkahku sejenak di sebuah warung kecil yang menjual nasi goreng dan beberapa aneka bakmi.

Sama halnya di Karangasem, penjual di sini pun begitu ramah dengan obrolan awal yang terpecah dengan pertanyaan tentang pesanan hingga password wifi. Tak banyak memang yang kami bicarakan tentang perjalanan, hanya sedikit bertukar pengalaman tentang indah rasanya tinggal di Bali atau Banyuwangi.

Terbilang lama aku berbincang, mungkin lebih dari sekitar satu jam untuk menunggu hujan sedikit bersahabat.  Hingga pada akhirnya jarum yang menunjuk angka 3 memaksaku pergi meninggalkan warung dan kembali bersetubuh dengan hujan.

Jalanan ini masih sama dari sebelumnya, sepi. Tak sekalipun aku berpapasan dengan manusia ataupun binatang di tengah gelap nya hutan yang hujan, atau bahkan kendaraan di belakang atau di depanku, tak sekalipun ku temu batang hidungnya.

Kabut pun perlahan turun mengisi ruang kosong di antara pepohonan yang tak lagi rindang, mempersempit jarak pandangku yang kini hanya tersisa satu atau dua meter. Beberapa kali aku diharuskan turun dari kendaraan dan menuntunnya melewati tanjakan curam. Sesekali terdengar lirih penduduk hutan berlarian menembus semak dan dedaunan, membuat suasana semakin nyata bahwa saat ini aku berada di tengah hutan sendirian dengan hujan dan kabut yang membatasi jarak pandang. Beruntung marka putih yang menyala oleh sorot lampu kendaraan bersedia menjadi acuanku hingga titik akhir perjalanan membelah hutan.

 

Paltuding

Di Paltuding, tepatnya di area registrasi dan penjualan tiket telah berdiri tiga pria bertubuh sedang dan berkulit legam menawarkan beberapa perlengkapan pendakian seperti masker, senter, hingga jasa guiding. Tentu perlengkapan seperti masker memang aku butuhkan untuk pendakian gunung aktif seperti ini, yang aku juga tak tau kapan gas beracun bisa saja berubah menjadi sosok kejam seperti yang pernah datang pada almarhum Soe Hok Gie, yang berhasil meregang nyawanya di keagungan Mahameru.

Sedang untuk jasa guiding, bukan aku ingin angkuh dan merasa mampu, tetapi berjalan seorang diri di tengah kesunyian alam adalah keinginanku saat ini. Imajinasiku melayang – layang pada dialog alam yang aku ingin masuk di dalamnya. Dimana aku bisa merasakan alam memelukku dengan hangat dan penuh kasih, membelai lembut dedaunan yang basah oleh embun, dan bercengkerama dengan makhluk – makhluk yang hidup bahagia di dalamnya.

Usai registrasi dan pembelian tiket, aku menyempatkan diri untuk melaksanakan ritual seperti biasanya; kopi dan obrolan. Beberapa warung telah tersedia di sana, terlihat begitu lengkap dengan beberapa pria yang terlihat asik menikmati kopi hitam sembari bermain kartu dengan obrolan menggunakan bahasa madura. Beberapa dari mereka bertanya tentang maksud dan tujuanku datang di waktu yang sepagi itu, dan tentang perjalananku yang rupanya mereka lebih mengerti tentang betapa sunyi jalanan yang telah aku tempuh di waktu yang tak biasa orang berlalu lalang. Sudahlah, aku telah mengurungkan niat tentang blue fire, lagi pula berjalan dalam sunyi memang keinginanku. Ditambah lagi informasi yang aku dengar bahwa pendakianku kali ini kemungkinan akan sendiri sepanjang perjalanan mengingat orang – orang telah tiba di puncak untuk menyaksikan blue fire, yang mungkin juga gagal oleh cuaca yang kurang baik. Pun bila bertemu mungkin nanti setelah melewati Pos 3 di saat mereka hendak turun.

 

Gunung  Ijen: Pos 1 & 2

Langkahku berlanjut setelah pamit dan memohon restu pada alam, hingga rintik gerimis yang lembut setia menemaniku menuju gerbang pendakian. Sunyi memang, hanya seorang pekerja tambang yang rupanya menanti rekan mendaki untuk menemani. Beberapa meter aku berjalan bersamanya hingga pada akhirnya ia mendahului atas langkahku yang lambat. Kanan kiri masih begitu gelap, hijau rindang pepohonan belum menampakkan kecantikannya. Hanya irama gerimis dan embun yang berjatuhan ke tanah.

Melewati Pos 1 aku urungkan niatku untuk beristirahat, mengingat langkahku yang lambat tak begitu banyak menguras stamina. Hingga pada Pos 2 aku dipertemukan dengan seorang penambang yang sedang beristirahat, dan aku hentikan langkahku sejenak untuk sekedar berbincang tentang cuaca dan pekerjaannya. Troli yang terparkir masih terlihat kosong, menandakan bahwa bapak satu ini sedang hendak menuju kawah untuk mengeruk belerang sebanyak apapun yang ia mau. Ia bertutur telah menjalankan pekerjaan ini selama lebih dari 15 tahun, dari sejak belerang masih di hargai Rp. 100,- per kilo hingga kini telah mencapai Rp. 1,000,- untuk setiap kilo bongkahan yang ia dapat.

 

Konon, dahulu penambang belum menggunakan troli untuk mengangkut bongkahan – bongkahan belerang. Mereka menggunakan keranjang yang terbuat dari anyaman bambu dan memikul ratusan kilo belerang dari pusat penambangan hingga pada pengepul yang jarak nya lebih dari sekitar 3 km, dengan bayaran yang bagiku tak setimpal dibanding dengan resiko gas beracun yang kapanpun siap mengancam hidup nya.

 

Troli Ojek

Berjalan beberapa ratus meter, hijau segar dedaunan mulai menampakkan kecantikannya bersamaan dengan awan mendung berwarna abu keeemasan. Dari kejauhan terdengar roda troli bergesekan dengan kerikil dan pasir menghampiriku. “Sebentar lagi akan kusaksikan seperti apa belerang berharga itu,” pikirku.

Berpapasan dengan penambang, aku tak menjumpai belerang yang aku nantikan. Justru duduk seorang pendaki perempuan berwajah asia dengan tenangnya menggantikan posisi belerang yang semestinya diangkut oleh penambang. Ingin sekali aku bertanya, tapi wajah penambang yang tergesa membatalkan niatku untuk menghentikannya.

Tak selang beberapa lama, terlihat di belakangku berjalan seorang penambang dengan trolinya yang kosong berjalan cepat seakan ingin mendahului. Bersamaan dengan sapa aku coba memperlambat langkahnya, ada tanya yang sangat ingin aku bicarakan pagi itu tentang troli yang mengangkut manusia.

“Kuli di sini kalau engga ngangkut belerang ya ngangkut pendaki mas. Bayarannya juga lumayan,” tuturnya. Dalam sekali angkut perjalanan menuruni gunung, mereka biasa memasang tarif Rp. 150,000,- hingga Rp. 200,000,-. Tak mau kalah dengan pejabat di gedung DPR sana, penambang juga mengerjakan proyek sampingan.

Tanyaku berlanjut pada beban berat saat mengangkut manusia, bukankah beban manusia lebih berat bila dibandingkan dengan belarang? Apakah tidak berbahaya untuk troli sekecil itu mengangkut beban seberat manusia?

“Ojok salah mas,” sahutnya mematahkan opiniku. “Berat manusia paling cuma 70 – 100 kilo, bayarannya bisa sampai Rp. 200,000,-. Kalau ngangkut belerang, sekali angkut biasanya 200 – 350 kilo dan bayarannya tetep sama mas, per kilo cuma Rp. 10,000,-. Belum lagi kalau gas nya lagi naik, ya mending ngangkut pendaki aja to mas,” imbuhnya.

Cerdas betul penambang satu ini. Biarpun bisa dikatakan sebagai seorang pekerja kasar, tapi  unsur matematis juga mereka ikut sertakan dalam strategi pekerjaannya. Keherananku sempat beberapa menit membungkam mulut hingga penambang itu mendahului.

 

Alam Bak Tempat Sampah

Langkahku mulai padat berpapasan dengan orang – orang dan juga penambang yang hendak turun. Seiring gerimis yang bersahabat dan juga mentari yang mulai membuka lebar pandangan, aku mulai dapat melihat Gunung Ijen yang sebenarnya. Putung rokok dan sampah plastik di sepanjang jalan entah ulah siapa. Juga batu – batu besar yang tak luput menjadi sasaran aksi vandalisme.

Setelah kecewaku pada Semarang yang mencorat – coret cagar budaya di Kota Lama beberapa waktu lalu, kini aku kembali di hadapkan pada kenyataan yang sama. Sudah pasti pelakunya adalah pemuda yang tak memiliki media untuk mengekspresikan hasrat seni nya, atau malah justru perasaan cinta terhadap pasangannya. Karena yang aku lihat di sini banyak batu besar bertuliskan dua nama sejoli lelaki dan perempuan. Entahlah.

Bagiku dunia sudah terlalu murah hati menyajikan banyak media untuk menyampaikan aspirasi, kritik, atau bahkan perasaan cinta, di tempat yang lebih pantas seperti media sosial, blog pribadi, pesan singkat, atau email sekalipun.

Dan tentang puntung rokok, aku tak bisa hanya menyalahkan pendaki yang datang. Nyatanya para penambang sempat beberapa kali aku lihat dengan perasaan tak bersalahnya membuang putung rokok sembarangan.

“Ini Gunung Ijen, tempat kalian mengeruk rupiah untuk menghidupi kehidupan kalian sendiri atau mungkin keluarga. Alam Gunung Ijen sudah begitu baik menjamin kelangsungan hidup kalian dengan belerang nya. Ia tak meminta banyak dari kalian, hanya cukup dengan menjaga kelestariannya. Bagaimana bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik jika hanya membalas cinta Ijen saja kalian enggan? Dimana syukur dan terimakasih kalian? Alam ini bukan patung. Ia hidup, dan berhak mendapatkan cinta.” Begitulah kira – kira yang ada di kepalaku kala itu.

Sudah menjadi hal yang biasa bagiku di dalam perjalanan menjumpai beragam perasaan marah, kagum, haru, bahkan takut sekalipun.

 

Gunung Ijen: Pos 3 & Kantin

Berlanjut pada langkah kaki yang enggan berhenti, kali ini Pos 3 kulalui dengan sedikit bersungut – sungut atas kenyataan Gunung Ijen.

Menurut informasi yang aku dapat, tak jauh dari Pos 3 akan ku dapati sebuah kantin sederhana dimana aku bisa duduk sejenak berkumpul dengan penambang dan pendaki yang lain sambil menikmati kopi untuk menghangatkan badan yang telah terlalu lama diguyur embun dan hujan.

Kupercepatlah ayunan kakiku. Terlihat di halaman kantin telah duduk banyak penambang yang sedang beristirahat juga para pendaki yang nampak bersantai melemaskan otot – otot yang telah lama berkontraksi.

Suasana yang hening sepi dan sunyi kini berganti dengan riuh yang memecah pagi. Beberapa di antaranya berteriak memesan kopi. Ada juga yang sibuk bernegosiasi, tentang tarif jasa ojek troli yang terasa tinggi. “Seperti di pasar saja,” keluhku.

Memasuki kantin aku disuguhi beberapa piring berisi pisang goreng yang masih hangat, juga segelas kopi hitam yang pekat dan panas. Tak banyak kalimat yang keluar dari mulutku kala itu, mengingat ramai riuhnya kantin yang hanya akan membuat obrolan terasa hambar.

 

Perjalanan berlanjut setelah beberapa buah pisang goreng menghangatkan perut. Tak banyak terlihat orang berjalan di depan atau di belakangku, hanya mereka yang terlihat begitu bahagia bersemangat menuruni gunung.

Tak lama melangkah aku merasa seperti sedang memasuki dimensi lain dunia ini. Beberapa pohon kering terlihat di sisi kiri dan kanan jalan, aroma gas belerang segar juga mulai tercium.

Hijau yang tadi kini menjadi gersang, di sisi kananpun mulai terlihat jurang dan berserakan pohon – pohon hangus bekas terbakar. Juga ditambah sampah – sampah botol plastik yang terlihat dengan sengaja dilemparkan ke dalamnya.

 

Kawah Gunung Ijen

Asap tebal mulai menampakkan gemulainya, pertanda bahwa kawah hanya tinggal beberapa meter lagi dari tempat kakiku berpijak saat ini. Dan memang betul, kegembiraan dan kekaguman saat melihat kawah begitu spontan mengusir semua lelahku.

Ini kali pertama aku mendaki gunung aktif seperti Gunung Ijen ini, dan juga kali pertama aku menyaksikan secara langsung kawah gunung berapi. Tidak ada kata lain lagi selain “indah”, sesederhana itu.

Nampak puluhan penambang masih sibuk mengangkut berkilo – kilo belerang dari areal pertambangan yang tak satu pendaki pun diijinkan menginjakkan kakinya di sana. Juga beberapa pendaki berwajah Tionghoa terlihat begitu asik dengan perabotan kamera nya. Sedang aku memilih sejenak rebah di bebatuan yang terasa arif memeluk seluruh tubuhku.

Satu persatu pendaki terlihat mulai meninggalkan kawah, disusul dengan para penambang yang terlihat tidak lagi betah dengan gas yang kian tebal. Akupun tak mau kalah, sebab nyawa yang jadi taruhan.

Langkahku masih sama, bahkan lebih lambat dari saat aku menaiki Gunung Ijen ini. Jalanan pasir yang licin menjadi alasan utamaku. Ditambah lagi niat memunguti setiap puntung rokok dan sampah plastik yang aku lalui, setidaknya sebagai bakti dan kasihku kepada alam yang sangat baik menjaga keberlangsungan hidup banyak manusia.

Sesampainya di Paltuding aku istirahatkan sejenak tubuhku di warung tempat aku tadi sempat memesan kopi. Sedikit banyak aku bertanya pada tuan rumah tentang sampah.

Menurutnya, pemerintah bahkan sudah menggelontorkan dana untuk menggaji seorang petugas membersihkan Gunung Ijen dari sampah. Dan saat aku tanya dimana petugas itu, iapun tak tau.

 

Dari sini dunia bisa menilai, tentang alam yang tak lagi lestari, tentang hutan yang tak lagi asri, dan tentang gelombang laut yang kian meninggi. Itu semua bukan lagi soal menuanya Ibu Bumi. Terlebih dari itu, terlalu banyak penghuni yang acuh dan tidak peduli.

Sebarkan:

3 thoughts on “Gunung Ijen: Kotoran Di Balutan Hutan”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi