Ijinkan aku kabarkan Mangku Sakti kepadamu sahabatku..

Dulu, di ujung timur Pulau Lombok ini telah hidup seorang sakti mandraguna. Dengan cinta, Tuhan titipkan kebesaran Rinjani di tangannya. Juga kemaslahatan hidup masyarakat yang tinggal di lereng keagungannya.

 

Titi Kastura, beliau adalah tetua yang setia menjaga Rinjani dan penduduk di sekitarnya. Bersahabatkan seekor Kuda Sembrani ia menunaikan tugas suci.

Kebijakannya selalu menjadi penengah di setiap problematika yang terjadi di tengah masyarakat.

Kesaktiannya juga seringkali menyembuhkan wabah penyakit yang sering menyerang dataran tinggi Lombok Timur kala itu. Olehnya masyarakat lebih akrab memanggilnya Mangku Sakti.

 

Jika bertolak pada kisah nabi terdahulu, semua tau ada perjuangan di balik pewahyuan.

Hal yang sama juga terjadi pada Titi Kastura. Kesaktian mandra guna itu bukan ia peroleh dengan cuma – cuma, ada perjuangan yang harus dibayar dengan mahal.

Jika para nabi menyepi di goa dan di balik bukit Sinai, lain halnya dengan Mangku Sakti.

Masyarakat meyakini beliau memilih menyepi di sekitaran air terjun yang terletak di tengah hutan belantara, di kaki Gunung Rinjani.

 

Perjalanan Mangku Sakti

Seorang sahabat menuntun langkahku untuk menapak tilas pada perjalanan Mangku Sakti. Untuk sekedar kulanuwun (permisi) sebelum nantinya langkahku menyusuri setiap sudut penjuru Lombok Timur. Hal ini mengingat beliau adalah salah satu sesepuh Pulau Lombok yang sangat dihormati.

 

Kali ini angin yang melaju membawaku pada hutan yang suram. Kabut tebal sesekali menghentikan putaran rodaku menuju gerbang utama belantara itu.

Satu meter di depan hanya terlihat marka jalan dan kabut yang membuatnya kabur. Beruntung satu pengendara di depan bersedia menjadi tanda.

Memang dibutuhkan kewaspadaan yang lebih untuk menyusuri jalanan ini.

Desa Sajang yang menjadi gerbang utama belantara ini sebenarnya tak terlalu jauh dari Sembalun. Bila saja embun tidak sedang mesra – ┬ámesra nya memeluk bumi. Mungkin bisa saja ditempuh 15 hingga 30 menit.

 

Setiba di Desa Sajang, sapa hangat penduduk setempat seperti merendamku ke dalam jacuzzi.

Semuanya begitu antusias. Beberapa menawariku tumpangan untuk melalui hutan menggunakan kendaraan pribadinya.

Karena  mereka rasa sepeda motor matic seperti kendaraanku ini tak akan mampu melewati medan yang curam.

Tak kubaca sedikitpun pamrih dari mimik wajahnya yang tua. Senyum, lembut, dan sangat tulus.

Pergilah aku membonceng kuda besi tua menyusuri belantara hutan.

 

Beberapa ratus meter memasuki hutan yang gerimis aku mulai dikejutkan pada jalanan yang sangat licin. Tidak ada aspal di dalam hutan, hanya kerikil – kerikil kecil yang menggelincir.

Medan yang curam seperti ini bagiku tak layak untuk dilalui kendaraan. Terbukti beberapa kali aku harus terjun dari atas jok dan terjatuh menimpa bebatuan.

Sempat aku meminta untuk turun saja, menyusuri hutan dengan berjalan kaki seperti biasa. Namun bapak ini mengatakan bahwa jalan masih terlalu panjang. Sangat mustahil dilalui hanya dengan berjalan kaki. Mengingat matahari juga terlihat perlahan mulai sembunyi.

Ia bertekad mengantarku menggunakan kendaraan hingga medan benar – benar tidak lagi memungkinkan.

 

Perjalanan ini memakan waktu sekitar 20 menit hingga pada gerbang petilasan. Dilanjutkan berjalan kaki 20 menit lagi lamanya untuk tiba di hilir.

 

Setelah berjuang jatuh bangun menyusuri hutan yang curam di atas kendaraan, kini aku harus berjalan. Tentu sebuah perjalanan yang sangat aku nantikan.

Kembali berjumpa kawanan liar masyarakat hutan, juga rimbun hijau daun – daun yang menyegarkan.

Ratusan langkah kaki kecil memasuki belantara, mulai terdengar nyanyian lutung – lutung hitam menyambut kedatangan. Teman lama yang di Pulau Jawa kini keberadaannya menjadi tanda tanya.

Pohon – pohon purba pun masih terlihat subur tumbuh di hutan yang kini semakin sunyi.

 

Tidak ada jalan setapak, hanya belantara dan lahar panas yang membeku jadi batu.

Berkali – kali aku diharuskan memanjat, juga melompat dari satu batu ke batu yang lain. Dimana jurang – jurang yang dalam siap menyergap tubuh dan perjalananku.

 

Gemericik air pun mulai terdengar lirih, seiring semakin sejuk udara belantara.

Tiba di hilir aliran air dari pusat air terjun aku dibuat heran sesaat menyaksikan air berwarna putih susu seperti itu. Belum pernah sebelumnya aku jumpai hal seperti ini. Tentu pemandangan yang langka bagiku.

Setelah aku coba bertanya, ternyata aliran air ini mengandung belerang yang terbawa dari Gunung Rinjani.

 

Menuju air terjun aku dihadapkan pada sebongkah batu besar berbentuk menyerupai sketsa wajah manusia.

Konon menurut penuturan warga, batu itulah perwujudan wajah Sang Mangku yang mendharma baktikan hidupnya pada alam.

Oleh alasan penghormatan, dengan penuh kesadaran sengaja aku tak sedikitpun mengambil gambar batu itu. Karena tata krama bagiku bukan hanya untuk manusia saja. Terlebih ketika aku adalah insan yang percaya pada sesuatu yang tak terlihat oleh mata badani.

 

Air terjun di sini begitu tenang. Sangat jauh dari hiruk pikuk sibuk kehidupan manusia. Pantas jika Titi Kastura memilih tempat ini untuk bertemu dengan diri yang sejati. Alam yang mistis begitu kental rasanya.

Tak banyak memang yang aku lakukan di sini kecuali memanjatkan syukur atas alam yang masih sempurna, dan ucapan kulanuwun pada Mangku Sakti yang melegenda.

 

Awan hitam dan matahari yang mulai bersembunyi menyegerakan langkahku untuk kembali pada keramahan Desa Sajang.

Tanpa diduga beberapa gelas kopi sudah menanti di berugak depan rumah sesepuh desa itu. Lengkap dengan camilan dan beberapa warga yang berkumpul, bersiap dengan cerita – cerita kerakyatannya.

Ah, betapa banyak hutang budiku pada Lombok yang Indonesia ini.

 

Dari sekian panjang perjalananku atas bumi pertiwi, hingga saat ini hanya Lombok yang memberikan arti lebih tentang betapa indahnya negeri.

Suatu saat cinta pasti akan membawaku kembali.

Terimakasih Mangku Sakti.

Sebarkan:

5 thoughts on “Makrifat Mangku Sakti”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi