Sore itu, pekan yang telah memasuki akhir kesibukannya terasa memadati jalanan Kota Denpasar hingga Pantai Kuta.

Riuh derap langkah wisatawan, gamelan yang melengking nyaring di banjar – banjar, dan masyarakat lokal yang bersiap melaksanakan ibadah mewarnai Pulau yang kian sempit ini. Wajar saja, Bali kini lebih mirip seperti metropolitan daripada Pulau Wisata dan Budaya.

 

Kepalaku pun tak tinggal diam. Begitu sibuk dengan riuh gemuruh pasar bernama problematika. Pertentangan dan perdebatan antara penjual dan pembeli sudah biasa terdengar dari rambut yang mulai rontok berjatuhan.

Sama seperti saat kalian berdiri tanpa tujuan di tengah pasar tradisional di desa – desa. Tidak kurang dan tidak lebih.

 

Imaji membawaku kembali pada masa awal perjalananku di Pulau Bali. Saat hati belum pulih oleh harapan cinta masa remaja.

Kala itu angin terbang membawaku menuju dataran tinggi Singaraja untuk bertemu seorang guru suci. Gede Prama namanya, romo terbaik yang pernah membawaku mengalami puncak meditasi tertinggi dalam hidup. Kebijaksanaannya menuntun pribadi – pribadi menjadi lebih welas asih. Dan tentunya pencapaian itu dimulai dengan satu langkah bernama meditasi.

Aku rindu masa – masa itu. Saat angin terasa begitu lembut mendekap tubuh, saat bumi begitu tulus dan berlapang dada menerima setiap pijakan kaki yang melangkah.

 

Godaan untuk kembali menyepi dan bermeditasi semakin menguat saat seorang sahabat begitu bersemangat dengan cerita tentang perkemahan yang rutin ia lakukan setiap akhir pekan.

Kali ini ia bercerita tentang Karang Boma, yang sebelumnya aku hanya tau tentang kisah – kisah klasik mistik Pura di dalamnya.

 

Dengan segenap cita aku bersiap menuju Karang Boma yang tak banyak kutau sebelumnya. Pikirku selama Karang Boma masih berada di wilayah Uluwatu, tak akan begitu sulit aku mencari lokasi perkemahan yang dituju. Mengingat Uluwatu sudah bagaikan rumah kedua bagiku.

Camping Karang Boma

Beberapa peralatan seperti tenda dan matras berhasil aku sewa dari sahabat yang tak lama kukenal melalui instagram, dengan biaya yang tak terlalu mahal juga tentunya.

 

Baca Juga: Napak Tilas Juru Kunci Rinjani Di Ujung Lombok Timur

 

Aku segera bergegas sesaat sebelum temaram habis menunjukkan rona jingganya, dengan harapan dapat bercengkerama sebelum gelap benar – benar memeluknya yang menjadikannya tiada.

Jalanan ini masih sama. Kepadatan dan kemacetan di sepanjang tanjakan GWK masih tak terelakkan. Rasanya tak ada yang berubah sejak dua tahun yang lalu aku rutin menciumi debu – debu jalanan ini. Hanya saja terlihat beberapa hotel megah yang dahulu dipenuhi tamu – tamu berwajah tionghoa, kini tertutup rapat entah dengan alasan apa. Yang aku tau memang persaingan bisnis hotel di Bali sudah dapat dibilang tidak sehat lagi, memaksa beberapa perusahaan yang tak dapat bersaing secara gila menutup rapat pintu lobby mereka.

 

Berlanjut pada perjalanan yang tak kunjung lengang oleh arus balik wisatawan pengunjung Pura Uluwatu, langit yang jingga tampak bersedih mengucap sampai jumpa hingga gelap pun menggantikannya.

Sempat aku gusar dengan gelap ini, ditambah lokasi perkemahan yang belum kutau tepat koordinatnya. Tapi tak apalah, aku akan lebih gusar di bawah sana. Di Kuta, tanpa ketenangan dan hanya berdiam tersudut pada dunia yang kini terasa begitu memuakkan.

Terus kukebut laju kendaraanku menuju tebing Karang Boma itu hingga mesin berhenti pada suatu semak tak berduri.

Ku angkat semua peralatan kemah, kucari titik pusat koordinat seperti yang tertanda pada GPS yang sudah kusimpan sesaat sebelum memulai perjalanan ini.

 

Baca Juga: Berkemah Di Bukit Cemara Karangasem Bali

 

Beberapa kali aku tersesat mencari titik pusat. Semak yang lebat dan perkebunan warga praktis menyulitkan langkahku menuju tebing.

Hingga pada satu momen aku terkejut bukan main saat berhadapan dengan puluhan ekor sapi berwarna cokelat keemasan, dengan perawakan yang sangat besar seperti gajah. Mereka terlihat panik, beberapa yang tak terikat terlihat berlarian ketakutan seperti bertemu wajah garang pemburu liar.

“Oh, sepertinya aku salah memasuki tempat ini. Ini lebih terlihat seperti area peternakan sapi warga. Sudah pasti kedatanganku akan mengusik mereka yang tak biasa bertemu buruk wajah manusia sepertiku ini,” pikirku.

Aku terus mencari dan mencari hingga pada akhirnya aku bertemu tanah lapang tepat di bibir tebing. Dengan rumput hijau yang lembut sebagai alasnya.

Debur ombak terdengar begitu keras menabrakkan seluruh tubuhnya pada tebing yang akan kutinggali malam itu.

Kurangkai satu per satu bagian tenda, memaku setiap ujungnya pada kulit bumi yang membuatnya kini menyatu. Kugelar gulungan matras dan menatanya rapi di depan tenda, sekedar untukku duduk bersejenak hening mendengar nyanyian alam di saat malam.

Kedekatan alam begitu nyata saat ribuan batang ranting kering begitu mudah kudapatkan. Untuk nantinya kubakar sebagai sahabat hangat melewati petang.

Api Unggun Karang Boma

Kini semua sudah siap, begitupun aku. Bercengkerama dengan malam dan makhluk – makhluk lembut asuhan rembulan segera dimulai. Kulipat kakiku, bermeditasi duduk seperti Awatara ke sembilan yang tercerahkan. Bergaya bak petapa yang tenang, perlahan nalarku hilang. Entah, mungkin melayang – layang.

Tubuhku seperti terhempas, terbang di antara bintang – bintang dan mendekati rembulan. Hingga pada akhirnya aku merasakan ketiadaan. Lepas begitu saja.

 

Baca Juga: 10 Inspirasi Lagu Indie Folk Tentang Perjalanan

 

Pagi, ombak yang sama menyudahi kesadaran totalku. Mengembalikanku pada kefanaan waktu. Seorang pria berwajah tua dengan kulitnya yang legam menyapaku yang baru saja hendak bersalaman pada alam pagi Uluwatu.

Dengan pakem khas masyarakat Nusantara ia memohon maaf kepadaku, dilanjutkan dengan menegur untuk tidak lagi mendirikan tenda di lokasi peternakan.

Ia bercerita banyak tentang sapi – sapi yang menjadi kurus seperti tak terurus. Oleh karena stress bertemu manusia – manusia yang masih asing bagi mereka. Ditambah lagi begitu banyak sapi hilang tak berjejak, yang dalam prasangkanya terjun bebas dari ketinggian tebing menuju ke kedalaman laut dengan ombak yang tak tenang.

 

Beribu maaf kulayangkan pagi itu, tak terbayang bagaimana berada di posisi bapak peternak sapi tersebut.

Memang ini sebuah kecerobohan. Mendirikan tenda dan berkemah tanpa memohon ijin sang empunya tanah, bukanlah hal yang baik saat masih ingin hidup rukun di tengah norma kemasyarakatan.

Tebing Karang Boma

Setelah sesaatnya aku bergegas pulang. Kukemas segala yang terbuka, begitupun niat untuk kembali lagi berkemah di Karang Boma. Segera aku pulang, dan kuberitakan kepada dunia: “Jangan Berkemah Di Karang Boma.”

Masih begitu banyak tempat untuk dapat bersejenak hening, yang dengan kedatangan kita tidak akan menakuti siapapun di dalamnya.

Sebarkan:

10 thoughts on “Jangan Sentuh Karang Boma”

  1. Bahasanya aduuuh… Saya harus ber-Tiwikrama untuk mengerti maksudnya (hahaha… ini lebay); asyik mas catatannya. Ketika saya baca kalimat “makhluk lembut asuhan rembulan” ini, jadi ingat lagunya Grass Rock berjudul Peterson. Jadul banget ya… hahaha

    1. Hahaha mas Yo ada – ada saja. Ga perlu bertiwikrama seperti itu mas, mas sydah cukup besar kok hahaha.
      Iya betul sekali mas Yo, kalimat di atas pertama kali saya dengar juga dari lagu jadul yang sering saya dengar di THR Sriwedari Solo hehehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Maaf, Konten Dilindungi